Tak lama, sebagian orang dibawa ke hadapan Hajjaj. Rambut mereka kusut dengan muka pucat. Debu juga melekat di tubuh. Seluruh tahanan di belenggu. Hajjaj berkata pada Salim, “Mereka yaitu pemberontak yang sudah membuat kerusakan di muka bumi serta menghalalkan darah yang sudah Allah haramkan. ”
Hajjaj menyerahkan pedangnya pada Salim sembari menunjuk pada salah seseorang dari mereka. Dia berkata pada Salim : “Pergilah serta tebaslah lehernya! ” Salim menerima pedang dari tangan Hajjaj lantas berjalan mendekati orang yang dimaksud.
Salim berhenti pas di depan orang itu, lantas menanyakan, “Apakah Anda Muslim? ” Terdakwa, “Benar saya Muslim. Namun, apa pentingnya Anda menanyakan demikian? Kerjakan saja apa yang diperintahkan pada Anda! ” Salim, “Apakah Anda shalat Subuh? ” Terdakwa, “Sudah saya katakan kalau saya Muslim. Kenapa Anda masih menanyakan lagi? " Salim, “Saya menanyakan, apakah Anda shalat Subuh hari ini? ” Terdakwa, “Semoga Allah memberimu hidayah. Pasti saya shalat Subuh! Silahkan Anda melakukan perintah orang zalim itu supaya ia tak murka pada Anda. ”
Salim berbalik menghadap Hajjaj lalu melemparkan pedang yang digenggamnya sembari berkata, “Orang ini mengakui sebagai Muslim serta berkata kalau hari ini telah shalat Subuh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa shalat Subuh, dia ada dalam perlindungan Allah. ” Saya akan tidak membunuh seorang yang ada dalam perlindungan-Nya! ”
Hajjaj geram serta berkata, “Kami bakal membunuhnya bukan lantaran dia tak shalat, namun lantaran dia turut ikut serta dalam pembunuhan khalifah Utsman bin Affan. ” Salim menjawab, “Masih ada orang lain yang lebih memiliki hak dari saya serta dari Anda untuk menuntut darah Utsman bin Affan! ” Hajjaj terdiam seribu bahasa.
Di antara pelajaran dari kisah Salim ini, pentingnya berdiplomasi untuk menghindari kekecewaan orang lain atau meringankan mudharat yang mungkin timbul. Di antara manfaat berdiplomasi dapat menghindari salah paham, meredam amarah, bahkan membuat gembira orang yang mendengarnya.
Seorang anak muda mengadu bahwa ayahnya marah besar. Ayah menyuruhnya untuk membelikan rokok di warung. Dia langsung menolak dan mengatakan bahwa rokok hukumnya haram dan membelikan rokok juga haram karena termasuk tolong menolong dalam kemaksiatan.
Di tempat lain, seorang ayah menyuruh anaknya membeli rokok di warung. Si anak berkata kepada ayahnya, "Merupakan kehormatan bagi anak untuk taat kepada orang tua. Tapi, tolong satu saja permintaan ayah yang terasa berat untuk dilaksanakan, yaitu membelikan rokok. Karena, kalau nanti ayah sakit maka saya akan merasa berdosa telah menjadi penyebab ayah sakit. Tolong ayah perintahkan saya selain itu, saya akan selalu siap melaksanakannya."
Sang Ayah hanya tersenyum saja dan tidak lagi menyuruh anaknya untuk membelikan rokok. Dia bangga memiliki anak yang patuh dan taat kepadanya. Subhanallah! Prof Dr Nashir Al Umar dalam ceramahnya menyampaikan kisah seorang raja yang bermimpi giginya copot. Raja mengumumkan sayembara siapa yang bisa menakwilkan mimpinya. Ada seseorang yang datang dan menafsirkan mimpi raja bahwa anak-anaknya akan meninggal duluan.
Sang raja marah dan memenjarakan si penakwil mimpi. Lalu, datang orang lain lagi dan mengatakan, "Usia tuan insya Allah lebih panjang dibandingkan usia anak-anak tuan." Sang raja senang mendengar jawaban tersebut dan memberinya hadiah yang banyak.
Kesimpulannya, kita harus terus berlatih untuk mengontrol dan menyusun kata-kata dan tulisan kita agar bisa menggembirakan dan tidak mengecewakan orang lain selama dalam rel syariat Islam. Wallahualam.
