Video : Membahas Tentang Hutang dan Solusinya

Video : Membahas Tentang Hutang dan Solusinya. Jangan bernafsu untuk berhutang, semuanya hidupnya hutang, akhirnya dia jadi tukaang hutang. Dalam islam hal itu tidak diperbolehkan. Sebenarnya Islam memperbolehkan untuk berhutang, hal ini berdasarkan alquran, karena ayat yang terpanjang surat Al baqorah membahas tentang hutang membolehkan untuk berhutang, namun jangan turutkan hawa nafsu untuk berhutang.

Video : Membahas Tentang Hutang dan Solusinya


Islam dengan lengkap membahas tentang hukum hutang. Jangan sampai semua hutang. Sepeda hutang, perabotan rumah tangga hutang, pakaian hutang, semuanya hutang.Itu yang tidak diperbolehkan. Bagaiman jika yang punya hutang meninggal dunia, meninggalkan huang buat istri dan anaknya. Intinya bila mampu dia beli, jika tidak mampu ya sabar.

Untuk lebih jelasnya silakan dilihat video yang membahas tentang hutang dan solusinya bersama Ustadz Yazid Abdul Qodir Jawas berikut ini :


Permasalah Utang Piutang Menurut Islam

Persoalan serta kesusahan ekonomi seringkali bikin seorang terasa buntu serta kehilangan arah untuk menemukan jalan keluar. Sampai pada hingga di titik kesusahan materi yang teramat sangat, pada akhirnya banyak di antara kita yang memilih untuk berutang pada sesama. Tak salah memang.
Permasalah Utang Piutang Menurut Islam

Berhutang diperbolehkkan dalam Islam, bahkan juga lantaran tidak menginginkan ada orang yang dirugikan lantaran praktek hutang piutang, Allah merumuskan adab-adab berutang yang tertuang dalam penghujung surah al-Baqarah ayat 282 kalau tiap-tiap praktek hutang piutang mesti dicatat serta disaksikan.

Pencatatan dan persaksian atas transaksi utang piutang dimaksudkan untuk menghindari kekeliruan dan permusuhan yang akan sangat mungkin terjadi. Dengan pencatatan dan persaksian pula, pengutang ingat kembali jumlah utang yang harus ia bayar jika suatu waktu ia lupa. Namun bagaimana, jika yang berutang tidak mampu atau bahkan fenomena yang sering terjadi adalah justeru yang berhutang lebih kasar dan kejam daripada si pemberi hutang?

Karenanya, diperlukan kelapangan hati dan jiwa ketika kita memutuskan untuk memberikan pinjaman kepada orang lain. Pemberi utang juga harus mengetahui betul apakah yang diutangi betul-betul belum mampu membayar, pura-pura tidak mampu atau bahkan tak ada niat untuk melunasi utangnya. Terkait menghadapi orang yang tidak mampu membayar, maka Alquran menganjurkan kita untuk memberi kelapangan.

“Dan jika dia (penghutang) memiliki kesukaran maka berilah penangguhan sampai waktu lapang (mampu membayarnya), dan apabila kalian menyedekahkannya maka itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui,” (Qs Al-Baqarah: 280)

Begitu santunnya anjuran Alquran dalam memberikan pedoman utang-piutang. Selain si pemberi utang dianjurkan untuk memberikan kelapangan (maysarah—kelonggaran waktu atau kesempatan untuk membayar), pemberi hutang juga harus siap jika pada akhirnya harus menyedekahkan uang yang dipinjamnya ketika yang berhutang, akhirnya tidak sanggup membayarnya.

Pertanyaannya; sudah sanggupkah kita mengikuti tuntunan Alquran? Andai saja kita memiliki uang 10 juta lalu dipinjamkan kepada 10 orang dan kesemuanya itu tidak mampu membayar utangnya, mampukah kita ikhlas?

Ketika Hudzaifah dan Abu Mas’ud ra sedang berkumpul, Hudzaifah ra berkata, “Ada seorang laki-laki yang meninggal dan menemui Tuhannya, maka Tuhannya berkata kepadanya, “Apa yang telah kamu perbuat?” Dia menjawab, “Aku belum pernah berbuat kebaikan, melainkan dahulu aku adalah seseorang yang memiliki harta benda. Dengan harta yang kupunya itulah aku biasa memberikan pinjaman kepada orang yang membutuhkan, lalu aku sering memberikan kemudahan dalam pembayaran. Apabila seseorang tidak mampu membayarnya, maka aku membebaskan hutang tersebut,” Maka Allah Swt berfirman, “Berilah kelapangan kepadanya,” Abu Mas’ud berkata, seperti itulah aku mendengar Rasulullah Saw bersabda,” (HR Muslim, Shahih Muslim, Juz 3, No Hadits 1560)

Demikianlah, tidak ada satu perbuatanpun yang luput dari penjagaan Allah. Berapapun nominal yang telah kita keluarkan (pinjamkan) dengan ikhlas, semua itu pasti akan terbalas. Cukup balasan di akhirat sajalah segala amal kebaikan orang-orang baik itu diberikan.

Allahu a’lam (republika.co.id)

Resep Shalat Khusyuk dari Imam Ghazali

Khusyuk dalam shalat adalah ukuran serta sinyal kekhusyukan hati. Bagaimana khusyuk dihadirkan? Imam Ghazali tawarkan resep tersebut. Lahiriah perintah, kata Al-Ghazali, yaitu wajib, sedangkan lalai yaitu lawan ingat. Yang lalai dalam seluruh shalatnya, bagaimana mungkin dia dapat membangun shalat untuk mengingat-Nya?
Resep Shalat Khusyuk dari Imam Ghazali

Hadirnya hati yaitu ruh shalat. Minimal waktu mulai takbiratul ihram. Kurang dari ini yaitu kebinasaan. Makin bertambah hadirnya hati, makin bertambah juga ruh itu ada pada bebrapa bagian shalat.

Berapa banyak orang hidup tapi tidak punya daya gerak hingga seperti mayit. Demikian pula orang yang lalai dalam seluruh pelaksanan shalat kecuali pada waktu takbiratul ihram. Seperti orang hidup yang tidak punya daya gerak sama sekali. Ketahuilah, kata Al-Ghazali, makna batin memiliki banyak ungkapan tetapi seluruhnya terangkum dalam enam kalimat. Yaitu: kehadiran hati, tafahhum, takzim, haibah, raja'da haya'. Kehadiran hati ialah mengosongkan hati dari hal-hal yang tidak perlu hingga dia senantiasa sadar, tidak berpikiran liar.

Tafahhum adalah paham terhadap makna. Takzim itu rasa hormat. Haibah adalah rasa takut yang bersumber dari rasa hormat. Raja' adalah pengharapan dan haya adalah rasa malu.

Faktor penyebab kehadiran hati adalah himmah atau perhatian utama. Tafahhum berasal dari kebiasan berpikir untuk mengetahui makna. Takzim lahir dari dua makrifat (terhadap kemuliaan dan keagungan Allah dan terhadap kehinaan dan kefanaan dirinya). Haibah datang dari makrifat akan kekuasaan Allah, hukuman-Nya, pengaruh kehendak-Nya.

Penyebab timbulnya raja' adalah kelembutan Allah, kedermawanan-Nya, keluasaan nikmat-Nya, keindahan ciptaan-Nya, dan pengetahuan akan kebenaran janji-Nya. Sedang haya' muncul melalui perasaan serbakurang sempurna dalam beribadah dan pengetahuannya akan ketidakmampuan menunaikan hak-hak Allah.

Berdasarkan itu, manusia terbagi menjadi tiga kelompok. Pertama, orang lalai yang mendirikan shalat, tetapi hatinya tidak hadir sama sekali. Orang yang mendirikan shalat dengan hati tak pernah lalai sama sekali. Ketiga orang lalai yang tidak mendirikan shalat.

Yang terbaik adalah tipe kedua. Dia tidak pernah lalai dalam shalat dan selalu menghidupkan hatinya. Dia bisa sangat konsentrasi sehingga tidak merasakan apa yang tengah terjadi di sekelilingnya. Bahkan sebagian orang wajahnya pucat dan dadanya berguncang karena takut. Ini tak mustahil dicapai manusia.

Apalagi banyak orang mengalami hal serupa karena takut pada raja dunia. Jika kita termasuk orang yang menginginkan akhirat, hendaknya tidak melalaikan berbagai peringatan yang terdapat dalam syarat-syarat dan rukun-rukun shalat.

Syarat-syarat yang mendahului shalat adalah azan, bersuci, menutup aurat, menghadap kiblat, berdiri tegak lurus dan niat. Ketika mendengar seruan muazin hadirkanlah dalam hati gambaran dahsyatnya seruan hari kiamat dan bersegeralah dengan lahir dan batin untuk segera memenuhinya.

Orang-orang yang bersegera memenuhi seruan ini adalah orang-orang yang dipangil dengan penuh lemah lembut pada hari 'pergelaran akbar'. Arahkan hati kepada seruan ini.

''Jika kita bisa mendapatinya dengan penuh kegembiraan, kesenangan, selalu berkeinginan untuk memulainya, maka ketahuilah rasa khusyuk akan datang kepadamu,'' kata Said Hawwa dalam buku Tazkiyatun Nafs/ (Menyucikan Jiwa) (republika.co.id)

Nasihat Rasulullah SAW untuk Wanita

Diantara bukti kecintaan Nabi Muhammad SAW pada kaum hawa yaitu nasehat yang senantiasa di sampaikan pada umat Islam supaya melindungi serta menghormatinya. Sebab wanita adalah makhluk yang unik, tidak bisa diperlakukan dengan kasar serta tak dapat juga dibiarkan (HR Bukhari).
Nasihat Rasulullah SAW untuk Wanita

Nabi SAW pernah menasihati dan memerintahkan kaum wanita agar bertakwa kepada Allah, menaati suami, dan banyak bersedekah. Nabi SAW bersabda, "Sungguh di antara kalian ada orang-orang yang masuk surga (beliau sambil merapatkan jari-jari tangannya) dan sebagian besar kalian akan menjadi bahan bakar api neraka (lalu beliau membuka jari-jarinya). Seorang wanita bertanya, ‘Mengapa, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Karena kalian banyak melaknat, mengingkari kebaikan suami, dan menunda-nunda kebaikan'." (HR Ibnu Hibban).

Dari hadis di atas, ada tiga nasihat Nabi SAW yang diperuntukkan khusus untuk kaum wanita sebagai bekal masuk surga. Jika diamalkan maka akan memudahkan kaum wanita meraih surga, yaitu bertakwa kepada Allah, taat kepada suami, dan banyak sedekah.

Sebaliknya, jika seorang wanita melakukan tiga hal berikut ini maka akan menjadi orang yang celaka (sebagai penghuni neraka). Pertama, wanita yang suka melaknat. Sebagian wanita begitu mudah melaknat orang yang ia benci, termasuk yang sedang ada masalah dengannya.

Sangat tidak patut jika seseorang yang mengaku mukmin namun lisannya terlalu mudah untuk melaknat. Rasulullah SAW bersabda, “Bukanlah seorang mukmin itu seorang yang suka mencela, tidak pula seorang yang suka melaknat, bukan seorang yang keji dan kotor ucapannya.” (HR Bukhari).

Kedua, wanita yang suka mengingkari kebaikan suami. “Tidaklah seorang istri yang menyakiti suaminya di dunia, melainkan istrinya (di akhirat kelak): bidadari yang menjadi pasangan suaminya (berkata): “Jangan engkau menyakitinya, kelak kamu dimurkai Allah, seorang suami bagimu hanyalah seorang tamu yang bisa segera berpisah dengan kamu menuju kami.” (HR Tirmidzi).

Ketiga, wanita yang suka menunda-nunda kebaikan. Salah satu hal yang menjadikan wanita suka menunda kebaikan itu adalah terlalu larut dalam perasaan dan emosi. Hal ini pernah terjadi pada masa Nabi SAW. (HR Bukhari dan Muslim).

Karena itu, ingat akan nasihat Nabi SAW untuk segera melaksanakan amal saleh sebelum datang tujuh hal yang menghancurkan, yakni; kefakiran yang melupakan, kekayaan yang menyesatkan, sakit yang merusakkan, ketuaan yang melemahkan, kematian yang mendadak, Dajjal yang merupakan seburuk-buruk hal ghaib yang akan datang, dan hari kiamat (HR Tirmidzi).

Semoga Allah SWT membimbing kita para wanita agar dapat menjalankan tiga nasihat Nabi SAW sebagai bekal masuk surga, dan meninggalkan tiga hal larangan agar dapat terhindar dari neraka. Aamin. (republika.co.id)

Doa Rasulullah Ketika Mendapat Musibah

" Tentu kami bakal menguji kalian dengan sesuatu ketakutan serta kelaparan dan kekurangan harta, jiwa serta buah. Dan berilah kabar gembira pada orang-orang yang sabar. " (QS Al Baqarah 2 : 155). Dalam kehidupan ini seorang akan tidak lepas dari kondisi suka serta sedih. Suka apabila memperoleh karunia nikmat serta sulit apabila tertimpa musibah. Permasalahannya, bagaimana kita bisa kuasai diri ketika kita dihadapkan satu musibah.
Doa Rasulullah Ketika Mendapat Musibah

Datangnya musibah itu satu keniscayaan tak dapat dihindari. Seperti dalam ayat di atas, ada beberapa macam musibah. Mulai rasa takut lantaran ancaman pihak lain atau lantaran kelaparan lantaran susahnya mendapatkan bahan pokok makanan, hingga pada kehilangan harta, jiwa serta beragam kebutuhan duniawi.

Allah SWT mengajarkan pada golongan beriman jika terkena musibah supaya memperbanyak kesabaran serta shalat (QS Al Baqarah 2 : 153) yakni tetaplah sabar menjalankan perintah Allah SWT, sabar dalam meninggalkan larangan Allah SWT, serta sabar dalam menerima takdir serta ketetapan Allah SWT. Nabi SAW mencontohkan pada kita apabila ada kesusahan atau musibah sebaiknya kita sabar serta shalat. Rasulullah SAW jika ada kesusahan beliau shalat (HR Abu Dawud).

Beliau juga mengajarkan umat Islam bila terkena musibah supaya berdoa pada Allah SWT seraya berkata, " Ya Allah SWT, berilah pahala atas musibah yang menimpaku serta ubahlah dengan yang lebih baik daripadanya ", dengan begitu, " niscaya Allah SWT akan menggantikannya yang lebih baik ". (HR Ahmad).

Satu kali Ummu Salamah tertimpa musibah dengan kematian suaminya tercinta Abu Salamah. Waktu itu Ummu Salamah teringat pesan Nabi SAW supaya berdoa` apabila tertimpa musibah. Dia mengucapkan doa` itu : " Ya Allah SWT, berilah pahala atas musibah yang menimpaku serta ubahlah dengan yang lebih baik daripadanya ". Selain itu Ummu Salamah percaya kalau sebagaimana Rasulullah SAW berkata bakal diganti dengan yang lebih baik.

Namun Ummu Salamah bertanya-tanya, " Siapakah yang lebih baik dari suamiku Abu Salamah? " Nyatanya setelah masa iddah-nya habis, Rasulullah SAW meminangnya. Jadi Ummu Salamah makin meyakini kalau Allah SWT benar-benar sudah menggantinya dengan yang lebih baik yakni Rasulullah SAW. Makin seseorang kuat imannya, ujian serta musibah makin banyak.

Umat muslim di ajarkan Allah SWT supaya bila terkena musibah selekasnya mengatakan inna lillahi wa inna ilaihi rajiun (kita punya Allah serta bakal kembali pada Allah). Beberapa ulama salaf berkata : " Semua musibah yang menimpa diri kita, pada hakekatnya ringan, sepanjang musibah itu tak menyangkut keutuhan agama kita ". (republika.co.id)

Inilah Alasan Kenapa Masih Malas Tahajud

Mudah-mudahan dengan mengetahui alasan kenapa masih malas Tahajud, tergeraklah kita untuk menjaga amalan mulia ini. Sebab, sungguh tak ada kemuliaan seorang hamba terkecuali lantaran keistiqamahannya menjaga shalat Tahajud, “Maa syarafal mu’min illa bit tahajjud. ”

Inilah Alasan Kenapa Masih Malas Tahajud

Serta semoga juga dengan mengenalinya kita selekasnya muhasabah diri lantaran sungguh dunia terasa surga sebelumnya surga untuk hamba Allah yang sudah merasakan indahnya, nikmatnya, bahagianya shalat malam.

Pertama, Dho'ful iimaani, lemah iman. Kalau kuat iman, pasti ia sangat cinta, rindu, dan sangat bahagia menghadap-Nya di penghujung malam. "Sesungguhnya bangun tengah malam lebih tepat untuk khusyuk, dan bacaan kala itu sungguh sangat berkesan mendalam," (QS al-Muzammil: 6). Bukankah kekasih senang berjumpa dan berduaan dengan kekasihnya.

Kedua, al-jahlu, karena awam ilmu agamanya. Seandainya tahu dalil, keutamaan, rahasia, hikmah, keajaiban, manfaat, indahnya Tahajud, pastilah ia menjaganya, bahkan sebelum tidur pun sudah senang karena nanti malam menghadap Allah.

"Apakah sama hamba Allah yang bangun malam sujud berdiri yang takut dengan dahsyatnya akhirat dan mengharapkan rahmat Allah dengan mereka yang lelap dalam peraduan tidur? Apakah sama hamba Allah yang berilmu dengan yang tidak berilmu? Sesungguhnya hanya hamba Allah berilmu yang mengingat Allah di penghujung malam," (QS az-Zumar: 9).

Ketiga, hubbud dunya, diperbudak dunia sehingga dilelahkan dan disibukkan dengannya, siang dan malam. Bangun malam pun karena target dunia. "Bermegah-megahan telah melalaikan kamu sampai kamu masuk ke dalam kubur," (QS at-Takatsur: 1-2).

Keempat, abdul hawa, budak nafsu. Orang yang kegemarannya melakukan amal maksiat, seperti pezina, pemabuk, pejudi, dan sebagainya sangat sulit untuk shalat malam. Puas dan senangnya hanya pada hal maksiat (QS Yusuf: 53).

Kelima, tho’mul haraami, banyak makan minum yang haram. Bisa dipastikan jika sesuatu yang dikonsumsinya adalah haram maka akan berat sekali untuk shalat lima waktu, apalagi shalat malam.

Kalaupun shalat terkesan berat dan cenderung malas-malasan, "Mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan,” (QS at-Taubah: 54). Tubuh yang tumbuh dari yang haram menjadi energi maksiat dan membuat lemes ibadah, wahai ikhwah fillah!

Keenam, katsrotul dzunuub, karena selalu dan keseringan berbuat dosa. Setiap dosa yg diperbuat menjadi noktah hitam di hati. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba, ketika berbuat dosa, maka pada hatinya akan tertinggal setitik noda hitam. Jika dia bertaubat dari dosanya, maka hatinya akan dibersihkan dari noda hitam tersebut. Namun, apabila dia terus menambah dosanya, maka noda hitam tersebut pun semakin bertambah.”

Demikianlah maksud dari firman Allah Taala, “Sekali-kali tidak, bahkan apa yang mereka lakukan tersebut akan menutupi hatinya,” (QS al-Muthaffifin: 14).” (HR at-Tirmidzi).

Sufyan ats-Tsauri berkata, "Saya pernah tidak bisa menjalankan shalat Tahajud selama lima bulan hanya karena satu dosa yang dulu aku lakukan."

Seseorang datang kepada Imam Ghazali untuk menanyakan kepada beliau mengenai sesuatu yang menyebabkannya tidak bisa bangun malam untuk mengerjakan shalat. Beliau menjawab, “Dosa-dosamu telah membelenggumu."

Ketujuh, karena alasan dari poin pertama sampai keenam, maka ia pun dengan mudah dikuasai setan (QS Al-A'rof: 175).

“Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi SAW bersabda: “Setan akan mengikat tengkuk salah seorang di antara kamu apabila ia tidur dengan tiga ikatan. Setan menyetempel setiap simpul ikatan atas kalian dengan mengucapkan, 'Bagimu malam yang panjang maka tidurlah.' Apabila ia bangun dan berzikir kepada Allah maka terbukalah satu ikatan. Apabila ia wudhu, terbuka pula satu ikatan. Apabila ia shalat, terbukalah satu ikatan. Maka, di pagi hari ia penuh semangat dan segar. Jika tidak, niscaya di pagi hari perasaannya buruk dan malas.” (HR Bukhari).

Ketika Rasulullah SAW diberitahu tentang seorang yang tidak Tahajud, beliau menjawab, “Setan telah mengencingi kedua telinganya.” (HR an-Nasa’i dan Ibnu Majah). Semoga Allah menanamkan keindahan iman di hati kita dan kenikmatan shalat malam. Aamiin. (republika.co.id)

Inilah Hukuman Berat Bagi Pelaku Pemerkosa dalam Islam

Inilah Hukuman Berat Bagi Pelaku Pemerkosa dalam Islam. Masalah pemerkosaan belakangan ini banyak memenuhi kabar berita media. Korbannya dari mulai anak-anak, belia, sampai mereka wanita yang telah dewasa. Bukan sekedar diperkosa, beberapa korban juga memperoleh perlakuan sadis sampai dibunuh.

Inilah Hukuman Berat Bagi Pelaku Pemerkosa dalam Islam

Banyak pihak yang berang serta geram pada aksi biadab beberapa pelaku. Desakan publik menimbulkan wacana mengenai hukum kebiri sampai hukuman mati. Paling minim, pelaku semestinya menerima hukuman seumur hidup. Hukuman ini yang dinilai paling pas untuk bikin pelaku kapok.

Sesungguhnya, Agama Islam telah mengaplikasikan hukuman yang berat untuk mereka yang bertindak tercela ini. Tetapi kontra lantaran dikira begitu sadis serta tak berperikemanusiaa. Tetapi lihat keadaan sosial saat ini, beratnya hukum pemerkosa ini merasa begitu adil. Seperti apa? Berikut penjelasannya.

Ulama dari India Dr. Zakir Naik mengatakan, hukuman bagi pemerkosa adalah hukuman mati. Ini berdasarkan QS. Al-Maidah: 33. Dimana dalam ayat tersebut Allah menjelaskan jika orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya serta membuat kerusakan di bumi harus dihukum dengan cara dibunuh, disalib, dipotong tangan dan kakinya, serta dibuang ke luar daerah.

“Sesungguhnya, hukuman terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, adalah dibunuh atau disalib, dipotong tangan dan kaki mereka dengan bersilang, atau dibuang (keluar daerah). Yang demikian itu, (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka mendapat siksaan yang besar.” (QS. Al-Maidah: 33)

Tindakan memperkosa hingga membunuh korbannya sudah termasuk kategori memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi. Kejahatan yang mereka lakukan termasuk kategori pembuat onar dan teror di muka bumi.

Namun ada pula pemerkosa yang tidak membunuh korbannya. Menurut Syekh Umar bin Muhammad bin Ibrahim dalam Ahkam al-Janin fi al-Fiqh al-Islami, mengatakan, mereka tetap akan menerima sanksi berat meski sang pelaku berkenan menikahi korban. Para ulama bersepakat jika hukuman bagi pemerkosa sama seperti sanksi zina, yakni had.

Jika pelaku pemerkosa ini adalah seorang yang sudah beristri, maka hukumannya adalah rajam (dilempar dengan batu) sampai mati. Sementara jika masih lajang, maka dia harus menerima cambuk 100 kali dan dibuang ke daerah terpencil selama satu tahun. Mereka dibuat jera dengan disakiti seluruh tubuhnya dengan cambukan. Kemudian ditambah dengan diasingkan selama setahun.

Sementara itu, menurut Imam Malik, pelaku juga diwajibkan membayar mahar sebagai ganti rugi. Semua sanksi yang ditetapkan untuk pelaku, sedangkan korban tidak menerima hukuman tersebut.

Bagaimana? Mengerikan dan begitu berat bukan? Hukuman ini awalnya dianggap menjadi hukuman paling sadis yang pernah ada. Namun faktanya, kini banyak orang yang meneriakkan hukuman berat terhadap pemerkosa layaknya yang sudah ditetapkan dalam hukum Islam.

Menabur Bunga Di Atas Kuburan Inilah Hukumnya

Menabur bunga diatas kuburan, inilah hukumnya  .Jika ada orang meninggal kita kerap lihat beberapa orang yang menaburkan bunga pada makam seorang dengan maksud supaya tampak lebih indah serta wangi, lantas bagaimana hukum menabur bunga diatas kuburan menurut Islam?
Menabur Bunga Di Atas Kuburan Inilah Hukumnya

Aktivitas menabur bunga bukan sekedar dikerjakan pada makam yang masih basah atau barusan namun pada hari-hari tertentu seperti mendekati hari raya atau hari yang lain aktivitas ini jadi satu kewajiban untuk orang Indonesia.

Menabur bunga diatas kuburan adalah satu diantara aktivitas yang kerap kita saksikan dimasyarakat. Aktivitas ini berdasar pada hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari yakni yang menerangkan bahwa ketika Rosulullah jalan melalui dua kuburan, beliau bersabda kalau dua orang penghuni kubur itu tengah memperoleh siksaan akibat perbuatan yang sudah mereka kerjakan selama didunia, yakni tak bersuci sesudah buang air kecil serta kerap menebarkan fitnah yg tidak benar. Lalu Rosulullah mengambil pelepah kurma serta membaginya jadi dua sisi untuk ditempatkan pada masing-masing kuburan, hal semacam ini mempunyai tujuan untuk memperingan siksa orang yang didalam kubur sampai pelepah kurma itu kering.

Bagaimana hukum tabur bunga di kuburan menurut Islam? Ada dua pendapat ulama yang melihat isi hadits ini seputar hukum menabur bunga atau meletakkan tumbuhan lainnya pada kuburan. Berikut adalah uraianya:

Anjuran Rosulullah
Sebagian ulama berpendapat bahwa menabur bunga diatas kuburan seseorang merupakan hal yang dianjurkan oleh Rosulullah. Hal ini berdasarkan dari hadits diatas yang menerangkan bahwa Rosulullah meletakkan pelepah kurma yang masih basah di atas kuburan orang yang disiksa untuk meringankan siksanya hingga pelepah kurma itu mengering. Pendapat ini banyak dianut oleh para ulama Syafi’iyah dan menganjurkan untuk menabur bunga atau meletakkan tumbuhan lain di atas kuburan seseorang untuk meringankan siksa kuburnya.

Imam besar Islam yaitu Imam Ar-Ramli mengatakan dalam kitab Nihayah bahwa meletakkan pelepah kurma yang masih basah atau hijau di atas kubur merupakan hal yang dianjurkan oleh Rosulullah. Ibnu Hajar menjelaskan dalam Fathu Al-Bari bahwa Buradah telah berwasiat agar kuburnya nanti diletakkan dua pelepah kurma yang masih basah atau hijau. Jadi hukum menabur bunga dikubur sangat dianjurkan karena mengikuti perilaku Rosulullah.

Bukan anjuran Rosulullah
Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa menabur bunga diatas kuburan merupakan hal yang tidak dianjurkan oleh Rosulullah dan hadits diatas hanya berlaku pada Rosulullah saja. Pelepah kurma basah yang diletakkan di atas kuburan tidak dapat meringankan siksa orang yang dikubur tersebut tetapi yang meringankan siksa kuburnya adalah adanya syafaat dari Rosulullah.

Rosulullah juga tidak melakukan hal yang sama pada kuburan lainnya dan para sahabat pun tidak mengetahui akan hal ini. Selain itu ada hadits yang diriwayatkan oleh Muslim yang menerangkan bahwa Rosulullah melewati dua kubur dan meletakkan pelepah kurma yang masih basah di atasnya dan beliau berkata bahwa dua penghuni kubur ini akan mendapat keringanan siksaan karena syafaat Rosulullah hingga pelepah itu mengering.

Berdasarkan hadits tersebut dapat disimpulkan bahwa yang dapat meringankan adzab dari penghuni kubur adalah syafaat Rosulullah bukan pelepah kurma atau bunga yang masih segar dan hukum menabur bunga di pusara tidak dianjurkan.

Dari kedua pendapat itu dapat disimpulkan bahwa meletakkan pelepah kurma, bunga atau tumbuhan lain diatas kubur merupakan hal yang tidak ada gunanya dan malah menghambur-hamburkan harta saja. Alangkah baiknya jika uang yang digunakan untuk membeli bunga dialokasikan untuk membantu anak yatim atau disedekahkan kepada orang fakir miskin sehingga lebih bermanfaat.

Itulah info sekitar hukum menabur bunga diatas kuburan menurut Islam berdasar pada hadits Nabi yang sudah ditinjau oleh beberapa ulama.

Minuman Keras, Induk dari Segala Kejahatan

Efek jelek dari miras serta semacamnya pada masyarakat kiranya telah di ketahui secara terang benderang. Sayangnya, sikap yang diperlihatkan sebagian masyarakat serta bahkan juga pemerintah belum seragam serta tegas dalam melarang produksi serta peredaran miras itu.
Minuman Keras, Induk dari Segala Kejahatan

Walaupun kita akui, beberapa pemda, ormas, dan orang-orang sudah mengambil sikap sendiri pada peredaran miras dengan sikapnya yang tegas, menampik peredaran miras. Terjadinya tindak kriminil, seringkali diawali dari dampak minuman keras yang ditenggaknya.

Karena dengan miras, konon keberanian pelaku menjadi meningkat, rasa takut dan minder menjadi hilang, kontrol dan akal sehat menjadi lemah bahkan hilang, sehingga perbuatannya menjadi ngawur dan lepas kendali.

Akibatnya, ia bisa bertindak nekat dan di luar batas kemanusian. Ia bisa menodong, menjambret, melukai dan bahkan membunuh. Yang memprihatinkan seperti kejadian baru-baru ini, sudah memperkosa korban lalu membunuhnya, sunguh sangat biadab.

Sikap Islam sangat tegas mengenai miras. Hukumnya haram, dan pelakunya dianggap telah melakukan dosa besar serta dikenakan hukuman had berupa dicambuk/dipukul dalam hitungan 40 atau 80 kali cambukan.

Nabi Muhammad SAW juga menyatakan khamr (miras) adalah ummul khaba 'its (induk dari segala kejahatan) sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, Khamr adalah induk dari kekejian dan dosa yang paling besar, barang siapa meminumnya, ia bisa berzina dengan ibunya, saudari ibunya, dan saudari ayahnya.” (HR ath-Thabrani)

Dengan redaksi yang sedikit berbeda, Abdullah bin Amr meriwayatkan, bahwa Nabi SAW bersabda, "Khamr adalah induk dari segala kejahatan, barang siapa meminumnya, maka shalatnya tidak diterima selama 40 hari, apabila ia mati sementara ada khamr di dalam perutnya, maka ia mati sebagaimana matinya orang Jahiliyyah.” (HR ath-Thabrani)

Bahaya miras juga telah diingatkan oleh salah seorang sahabat Rasulullah SAW, Utsman bin Affan. Diriwayatkan, suatu ketika Utsman sedang menyampaikan khutbah sembari berpesan, “Waspadalah terhadap miras karena sesungguhnya miras merupakan induk segala perbuatan keji. Sungguh, pernah terjadi pada seorang pria saleh sebelum kalian dari kalangan ahli ibadah. Ia rajin beribadah ke masjid. Suatu ketika ia bertemu dengan seorang perempuan nakal."

"Perempuan tersebut memerintahkan kepada pembantunya agar mempersilakan lelaki tersebut masuk ke dalam rumah. Kemudian pintunya dikunci rapat-rapat. Di sisi perempuan tersebut terdapat miras dan seorang bayi. kemudian perempuan tadi berkata, 'Kamu tidak bisa keluar dari rumah ini sebelum engkau memilih minum segelas arak ini atau engkau berzina dengan aku, atau engkau membunuh bayi ini. Jika kamu tidak mau, maka saya akan berteriak dan saya katakan bahwa kamu ini memasuki rumahku. Siapa yang akan percaya kepadamu?'

Lelaki tersebut menjawab, “Saya tidak mau melakukan perbuatan keji (berzina) atau pun membunuh jiwa seseorang.” Akhirnya ia minum segelas miras. Demi Allah, ia menjadi mabuk sehingga ia pun berbuat zina dengan perempuan tersebut dan membunuh si bayi.

Utsman RA pun berpesan, “Jauhilah minum minuman keras, karena minuman keras merupakan induk segala perbuatan keji. Demi Allah, sungguh, iman dan minuman keras tidak akan bersatu di dalam hati seseorang melainkan hampir pasti salah satu di antaranya melenyapkan yang lain.”

Setelah menyadari bahaya miras, masihkah kita bersikap lembek terhadapnya? Ataukah masih butuh korban lebih banyak lagi baru mau mengambil tindakan? (republika.co.id)

Muliakanlah Para Perempuan

Satu saat, seseorang melukai kepala seorang budak wanita dengan batu hingga terluka. Lalu salah seorang teman dekat Nabi SAW menanyai budak wanita itu, siapa yang berbuat sekian kejam terhadapnya. Saat dijelaskan nama seorang yang memukulinya. Wanita itu menganggukkan kepalanya.

Muliakanlah Para Perempuan

Lalu, orang yang melukai budak wanita itu dihadapkan pada Rasulullah, namun ia tak mengaku tindakannya hingga saat yang cukup lama. Namun selanjutnya, ia mengakui tindakannya serta Rasulullah SAW memerintahkan sahabat untuk menghukum orang itu.

Kisah dari Anas RA diatas memperlihatkan, betapa ajaran Islam begitu memuliakan wanita dengan menjadikannya manusia yang sama kedudukannya dengan lelaki dalam tiap-tiap lini kehidupan, terkecuali yang terkait dengan pekerjaan, keharusan, tanggung jawab, serta karir yang tidak cocok dengan fitrahnya sebagai wanita.

Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Alquran, "Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana," (QS. at-Taubah [91]: 71)

Islam memberikan kemuliaan dan penghargaan yang tinggi kepada kaum wanita. Sebagai contoh, Ummul Mukminin Aisyah RA banyak sekali meriwayatkan hadis yang disertai dengan penjelasannya. Aisyah sering berdiskusi dengan para sahabat Nabi SAW. Beliau juga termasuk yang menjadi salah satu sumber rujukan untuk memahami wahyu dan sunah Nabi.

Oleh karenanya, dalam Islam wanita juga memiliki kewajiban yang sama dengan laki-laki untuk menuntut ilmu sepanjang hayat dikandung badan. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, "Mencari ilmu itu adalah wajib bagi setiap Muslim laki-laki maupun Muslim perempuan." (HR Ibnu Abdil Barr)

Terkait masalah ekonomi, seorang wanita berhak memiliki harta benda dan menafkahkannya sesuai dengan keinginannya. Tidak seorang pun berhak memaksanya untuk menafkahkan hartanya. Termasuk kerabat dekat dan suaminya sekalipun.

Termasuk memilih pendamping hidup, seorang wanita berhak menolak ketika akan dinikahkan oleh walinya apabila dilakukan tanpa seizinnya. Rasulullah SAW bersabda, "Seorang janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya. Seorang perawan dimintakan izin darinya (ketika hendak dinikahkan), sedangkan pertanda izinnya adalah diamnya."

Begitulah Islam memposisikan sosok wanita, sebagai manusia yang sama kedudukannya dengan pria. Dia adalah sosok ibu, saudara perempuan, anak perempuan, dan istri yang harus dihormati dan dihargai keberadaannya. (republika.co.id)

Jagalah Anak-anak dan Para Perempuan

Manusia saat ini tengah dihadapkan dengan masalah yang seakan-akan tak menyebabkan kerusakan iman. Beberapa ada yang menunda menikah lantaran takut masalah impitan kehidupan saat menikah. Memilih pacaran kurun waktu yang lama, lalu menikah.

Jagalah Anak-anak dan Para Perempuan

Walau satu sisi pacaran itu tidak layak dengan cara agama, banyak yang pilih langkah tersebut. Alasannya lantaran menginginkan mendekatkan diri dengan keluarga, menanti supaya lebih mampu secara ekonomi, serta banyak lagi argumen. Sampai perintah yang perlu disegerakan itu terlambat. Setelah demikian lamanya berpacaran, sampai tidak juga jadi istrinya.

Telah melakukan banyak dosa, malah menumpuk juga dosa itu. Kenyataan ini jadi realitas dalam lingkungan sosial saat ini. Semestinya, alasan tak menikah bukanlah lantaran takut tidak dapat rejeki, tetapi lantaran belum dapat jodoh pilihan yang sesuai. Proses ini yang bakal memastikan banyak atau tidaknya rejeki waktu telah menikah tadi. Waktu setelah menikah, banyak juga yang menunda mempunyai anak.

Akhirnya, kembali diberikan cobaan kemiskinan sebab Allah belum akan melepaskan kemiskinan itu selagi ia menunda mempunyai anak. Alasannya karena ingin santai dan bahagia. Ada juga karena khawatir tidak bisa mengurus anak. Bahagia apa yang dimaksudkan jika tidak punya anak. Justru punya anak perempuan dan laki-laki, kebahagiaan yang memberikan motivasi hidup. Selain ditahan rezekinya, juga diberikan cobaan baru lagi, yaitu tidak punya anak sampai sekian tahun.

Percayalah bahwa itulah salah satu penyebab mengapa tak dapat anak dan tak pula kaya. Kita tidak bisa berdiam diri atas kelahiran putra dan putri kita. Terbayang selalu wajah senyum mereka di rumah dan merasa bersalah jika tidak memberikan nafkah kepadanya. Seketika itu pula, Allah memberikan jalan terbaik, yaitu menitipkan rezeki istri dan anak kepada kepala keluarga. Terkumpullah menjadi banyak porsi itu jika mau mengejar harta yang disediakan Allah.

Satu sisi keyakinan ini tidak tumbuh dalam diri manusia kini. Meyakini jika usahanya yang lebih penting. Ia tidak yakin jika ada porsi-porsi rezeki yang dititipkan Allah untuk ditangkap berupa rezeki di permukaan bumi itu. Akhirnya, ia tak sadar jika perbuatannya itu justru membuatnya tertunda menjadi manusia yang terkaya, baik di dunia maupun akhirat. Manusia kaya di dunia karena banyaknya harta yang kita peroleh titipan Allah dari anak perempuan tadi. Banyaknya rezeki dari istri tadi untuk kita.

Akhirnya, memberikan dorongan bagi kepala keluarga untuk mencari rezeki sebanyak mungkin. Kedua, kita akan dapat pahala yang lebih banyak dengan membesarkan anak perempuan. Hal ini terkait dengan sulitnya menjaganya. Banyak yang menginginkannya di luar sana, baik yang beriman maupun tidak. Banyak pula yang ingin melamarnya. Jika nanti jatuh kepada laki-laki yang tidak benar secara agama, banyak sekali aliran dosa kepada orang tua.

Mari kita jaga anak perempuan kita dengan baik dan yakin ada rezeki yang lebih banyak dengan membesarkan anak perempuan. Bahkan, jaminan surga bagi kita. Ketiga, berikan hak perempuan, yaitu sekolah. Jangan anggap karena mau mengurus anak sehingga tidak sekolah. Justru karena ingin mendidik anaklah maka perhatikan sekolah anak perempuan. Padanya bertumpu nasib anak-anak pada kemudian hari.

Itulah kenikmatan yang tertinggi. Dalam hadis riwayat Imam Muslim dari Anas bin Malik dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, 'Barang siapa dapat mengasuh dua orang anak perempuannya hingga dewasa, aku akan bersamanya pada hari kiamat kelak.' Beliau merapatkan kedua jarinya."

Inilah Penerapan Iman kepada yang Gaib

Satu diantara ciri paling utama orang bertakwa yaitu beriman pada suatu hal yang gaib. ''Yaitu orang-orang yang beriman pada yang gaib, melakukan shalat, serta menafkahkan sebagian rejeki yang Kami berikan. '' (QS Al-Baqarah 2 : 3).
Inilah Penerapan Iman kepada yang Gaib

Iman pada yang gaib jadi prasyarat fundamental dalam Islam. Keimanan ini bermakna yakin seyakin-yakinnya (haqqu al-yaqiin) kalau ada entitas diluar dunia indrawi. Entitas ini yaitu suatu hal yang riil, bukanlah sebatas ajaran filosofis abstrak maupun perumpamaan (majaz).

Tuhan bukannya ajaran filosofis yang nampak dari renungan beberapa orang yang kalah (teralienasi) menghadapi kenyataan kehidupan seperti dituduhkan golongan ateis. Surga serta neraka bukan sebatas ajaran penghibur serta alat untuk menakut-nakuti seorang supaya dia tak berbuat semena-mena.

Tapi, semuanya benar-benar ada (al-haq). Dengan kata lain, orang mukmin wajib meyakini bahwa ada realitas yang tak terjangkau oleh kemampuan manusia. Ada entitas nonlogis di luar daya visual (quwwah an-nadzri) dan daya pikir (quwwah al-fiqri) manusia.

Ajaran inilah yang membedakan Islam dengan materialisme. Angin modernisme yang datang dari Barat (westernisasi) agaknya ingin menggusur akidah Islamiah digantikan dengan akidah jahiliyah ini. Kepercayaan seseorang kepada yang gaib semakin menipis. Mereka terlalu mengedepankan rasionalitas empiris. Dimensi nonmateri dipojokkan dan dituduh sebagai sesuatu yang serba mitos. Orang yang percaya pada sesuatu yang gaib dikatakan sebagai orang yang kurang modern.

Kelompok inilah yang disebut oleh Alquran dengan Al ad-dahr. ''Dan mereka berkata, kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa.'' (QS Al-Jaatsiyah [45]: 24).

Kelompok materialis (ahlu ad-dahr) hanya memercayai kehidupan materi. Mereka percaya hanya hukum alamlah yang menyebabkan semuanya hancur. Tak ada kuasa di balik semua yang riil. Keadaan dunia ini tak ada kaitannya dengan dimensi gaib termasuk kuasa Tuhan.

Keimanan seorang mukmin pada yang gaib akan menjadi cara pandang yang membedakannya dengan orang materialis. Keimanan ini menjadi alat kontrol, sehingga akan senantiasa berbuat jujur di manapun berada.

Ia menjadi manusia yang mandiri dan sadar atas dirinya. Komitmennya dalam berbuat baik akan dilakukan kapanpun dan di manapun ia berada. Pada dasarnya manusia adalah makhluk yang egois, ambisius, dan penuh motif. Keimanan pada hal gaib inilah yang kiranya mampu menepis egoisme manusia sehingga ia berbuat dengan tulus dan ikhlas. (republika.co.id)

Karena Shalat Subuh, Pembunuh Itu Bebas

Syahdan, Salim bin Abdullah, seorang ulama tabiin menjumpai Gubernur Hajjaj bin Yusuf untuk mengemukakan mengenai keperluan golongan Muslimin. Hajjaj menyambutnya dengan ramah serta memuliakannya.

Karena Shalat Subuh, Pembunuh Itu Bebas

Tak lama, sebagian orang dibawa ke hadapan Hajjaj. Rambut mereka kusut dengan muka pucat. Debu juga melekat di tubuh. Seluruh tahanan di belenggu. Hajjaj berkata pada Salim, “Mereka yaitu pemberontak yang sudah membuat kerusakan di muka bumi serta menghalalkan darah yang sudah Allah haramkan. ”

Hajjaj menyerahkan pedangnya pada Salim sembari menunjuk pada salah seseorang dari mereka. Dia berkata pada Salim : “Pergilah serta tebaslah lehernya! ” Salim menerima pedang dari tangan Hajjaj lantas berjalan mendekati orang yang dimaksud.

Salim berhenti pas di depan orang itu, lantas menanyakan, “Apakah Anda Muslim? ” Terdakwa, “Benar saya Muslim. Namun, apa pentingnya Anda menanyakan demikian? Kerjakan saja apa yang diperintahkan pada Anda! ” Salim, “Apakah Anda shalat Subuh? ” Terdakwa, “Sudah saya katakan kalau saya Muslim. Kenapa Anda masih menanyakan lagi? " Salim, “Saya menanyakan, apakah Anda shalat Subuh hari ini? ” Terdakwa, “Semoga Allah memberimu hidayah. Pasti saya shalat Subuh! Silahkan Anda melakukan perintah orang zalim itu supaya ia tak murka pada Anda. ”

Salim berbalik menghadap Hajjaj lalu melemparkan pedang yang digenggamnya sembari berkata, “Orang ini mengakui sebagai Muslim serta berkata kalau hari ini telah shalat Subuh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa shalat Subuh, dia ada dalam perlindungan Allah. ” Saya akan tidak membunuh seorang yang ada dalam perlindungan-Nya! ”

Hajjaj geram serta berkata, “Kami bakal membunuhnya bukan lantaran dia tak shalat, namun lantaran dia turut ikut serta dalam pembunuhan khalifah Utsman bin Affan. ” Salim menjawab, “Masih ada orang lain yang lebih memiliki hak dari saya serta dari Anda untuk menuntut darah Utsman bin Affan! ” Hajjaj terdiam seribu bahasa.

Di antara pelajaran dari kisah Salim ini, pentingnya berdiplomasi untuk menghindari kekecewaan orang lain atau meringankan mudharat yang mungkin timbul. Di antara manfaat berdiplomasi dapat menghindari salah paham, meredam amarah, bahkan membuat gembira orang yang mendengarnya.

Seorang anak muda mengadu bahwa ayahnya marah besar. Ayah menyuruhnya untuk membelikan rokok di warung. Dia langsung menolak dan mengatakan bahwa rokok hukumnya haram dan membelikan rokok juga haram karena termasuk tolong menolong dalam kemaksiatan.

Di tempat lain, seorang ayah menyuruh anaknya membeli rokok di warung. Si anak berkata kepada ayahnya, "Merupakan kehormatan bagi anak untuk taat kepada orang tua. Tapi, tolong satu saja permintaan ayah yang terasa berat untuk dilaksanakan, yaitu membelikan rokok. Karena, kalau nanti ayah sakit maka saya akan merasa berdosa telah menjadi penyebab ayah sakit. Tolong ayah perintahkan saya selain itu, saya akan selalu siap melaksanakannya."

Sang Ayah hanya tersenyum saja dan tidak lagi menyuruh anaknya untuk membelikan rokok. Dia bangga memiliki anak yang patuh dan taat kepadanya. Subhanallah! Prof Dr Nashir Al Umar dalam ceramahnya menyampaikan kisah seorang raja yang bermimpi giginya copot. Raja mengumumkan sayembara siapa yang bisa menakwilkan mimpinya. Ada seseorang yang datang dan menafsirkan mimpi raja bahwa anak-anaknya akan meninggal duluan.

Sang raja marah dan memenjarakan si penakwil mimpi. Lalu, datang orang lain lagi dan mengatakan, "Usia tuan insya Allah lebih panjang dibandingkan usia anak-anak tuan." Sang raja senang mendengar jawaban tersebut dan memberinya hadiah yang banyak.

Kesimpulannya, kita harus terus berlatih untuk mengontrol dan menyusun kata-kata dan tulisan kita agar bisa menggembirakan dan tidak mengecewakan orang lain selama dalam rel syariat Islam. Wallahualam.

Mumpung Masih Muda Mengapa Harus Menunggu Tua?

Banyak kisah dalam Alquran bercerita sosok pemuda ideal. Tak sebatas memberikan pujian pada, Alquran bahkan juga membuatnya sebagai teladan jaman. Ada Ibrahim, potret pemuda yang gigih menegakkan tauhid di dalam beberapa penggiat syirik. "Sungguh Ibrahim adalah imam yang layak dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali dia bukanlah pelaku syirik" (QS an-Nahl [16]: 120).
Mumpung Masih Muda Mengapa Harus Menunggu Tua?

Putra beliau, Ismail, adalah tipe pemuda yang berhati jujur dan suci. Ketika Ibrahim mengabarkan wahyu Allah untuk menyembelih dirinya, jawaban Ismail adalah, "Wahai Ayahanda, kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu. Insya Allah aku termasuk orang-orang yang sabar" (QS as-Shaffat [37]: 102).

Alquran juga mengabadikan kisah Yusuf. Pemuda tampan ini sungguh luar biasa. Ketika dirayu Zulaikha, wanita cantik yang juga istri pembesar Mesir, Yusuf sanggup menundukkan gelombang syahwatnya sebagai lelaki normal. Dia lebih memilih penjara ketimbang berbuat mesum. "Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku" (QS Yusuf [12]: 33).

Dan, yang juga terkenal adalah kisah Ashabul Kahfi. Cave of the Seven Sleepers, itulah nama situs bersejarah di Yordania yang jadi saksi atas tujuh pemuda bersama anjing mereka. Ngumpet demi mempertahankan akidah, mereka diselamatkan Allah dari kezaliman penguasa setempat. Tujuh pejuang tauhid itu ditidurkan Allah selama 309 tahun. "Sungguh mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula petunjuk untuk mereka" (QS al-Kahfi [18]: 13).

Cukuplah cuplikan kisah pemuda teladan itu. Hal yang penting kita cermati, masing-masing pemuda itu hebat ternyata bukan sekadar berotak cerdas atau berbadan kesatria. Mereka punya idealisme iman. Dan, kita tahu, iman adalah kemantapan hati yang diikrarkan dengan lisan, kemudian dinyatakan via tindakan. Itulah kunci keunggulan dan kehebatan diri.

Sekarang mari kita becermin: sudahkah pemuda kita punya keimanan prima itu? Minimal berusaha mematut-matutkan diri agar dapat seperti mereka. Kita tengok masjid kita. Berapa banyak pemuda kita yang aktif jamaah di sana? Ketika Maghrib mungkin bisa dikatakan lumayan, tetapi bagaimana dengan Isya dan terlebih lagi Subuh? Juga dalam majelis taklim, sudahkah penuh oleh pemuda atau justru para tua?

Jika mau jujur, masjid-masjid kita selama ini lebih dipenuhi oleh kaum tua. Pemuda kita tampaknya belum begitu terpikat aktif di masjid. Warung kopi cukup ramai, sementara masjid sepi. Sungguh meresahkan. Padahal, kesediaan memakmurkan masjid adalah indikator keimanan seseorang.

"Sungguh yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanya orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada apa pun) selain kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk" (QS at-Taubah [9]: 18).

Orang yang hatinya terpaut dengan masjid berarti dia berhasil menjaga stamina iman. Buat apa bicara muluk-muluk tentang agama kalau melaksanakan shalat jamaah di masjid secara rutin saja susah. Apa arti lulusan kampus terkenal kalau ke masjid saja enggan. Apa guna membaca buku segudang kalau mengaji Alquran saja jarang-jarang. Dalam hadis sahih, Rasulullah menegaskan bahwa di antara tujuh golongan yang kelak mendapat payung dari Allah di hari Mahsyar ialah orang yang hatinya tertambat di masjid.

Jadi, tidak sepatutnya pemuda Muslim meremehkan ibadah di masjid ini. Mengapa sering muncul pemuda nakal? Kadang malah sudah bodoh, bermasalah lagi. Menurut salah seorang pakar pendidikan, penyebabnya ada tiga. Pertama, dia jauh dari masjid. Kedua, dia jauh dari Kitab Suci. Ketiga, dia jauh dari orang alim. Benar. Dalam kenyataan sehari-hari, pemuda, bahkan siapa saja yang jauh dari ketiga hal itu, kerap kerontang motivasi iman dan ilmunya. Sering bertindak di luar kontrol agama dan moral karena memang kekurangan vitamin jiwa.

Terakhir, tapi tidak kalah penting, adalah selektif memilih teman. Tidak sedikit pemuda gagal juga disebabkan salah pilih teman. "Seseorang itu mengikuti agama temannya. Hendaklah setiap kamu memperhatikan siapa temannya," ujar Rasulullah dalam hadis sahih. Maka, jangan lagi mengira bahwa memilih teman itu wujud sikap pongah. Sama sekali bukan. Memilih teman yang baik adalah ajaran Islam.

Kinilah saatnya masjid-masjid kita ramai oleh jamaah pemuda, bukan hanya kaum tua. Kita lakukan upaya-upaya di atas dengan ikhlas dan istiqamah. Menjadi baik, haruskah menunggu tua?

Resep Simpel Supaya Terlepas dari Azab Kubur

Al-Baihaqi yang berguru hadis pada Syekh Abu Abdullah al-Hakim memberi resep simpel supaya terlepas dari azab kubur. Menurut dia, kunci yang dapat menyelamatkan seorang dari siksa kubur yaitu amal saleh yang dilakukan selama hidupnya didunia.

Resep Simpel Supaya Terlepas dari Azab Kubur


" Dan, siapa saja yang beramal saleh, maka untuk diri mereka sendirilah mereka mempersiapkan (tempat yang menyenangkan). " (QS ar-Ruum 30 : 44). Mengacu pada pendapat mujahid, tempat menyenangkan yang disebut adalah " tempat tinggal " yang nyaman sepanjang di alam barzah.

Kenyataan ini dapat dipertegas dalam hadis kisah Abu Hurairah. Dijelaskan kalau saat mayat sudah ditempatkan di kuburannya, ia mendengar gesekan sandal handai tolan yang meninggalkannya sendirian.

Apabila ia orang beriman maka amalan shalat bakal ada diatas kepalanya, puasa di samping kanannya, serta zakat ada di samping kirinya. Sedang, amalan yang lain, seperti sedekah, silaturahim, serta perbuatan baik ada di sekitaran ke-2 kakinya. Masing-masing bakal jadi saksi serta pelindung baginya.

Di pengujung karyanya, al- Baihaqi yang populer dengan mahakaryanya, as-Sunan al-Kubra serta Dalail an-Nubuwwah, menukil sebagian kisah yang menceritakan mengenai rasa takut serta harapan besar dari beberapa salaf supaya terlepas dari siksa neraka.

Walau sebenarnya, melihat hitungan matematis, tingkat kesalehan spiritual mereka termasuk mumpuni. Ini tidak lain melukiskan ketaatan mereka pada Allah serta Rasul-Nya.

Sebut saja, umpamanya, pendiri mazhab teolog Asy'ariyah, Abu Musa al-As'yari. Ia memohon supaya dijauhkan dari siksa neraka. Ia bahkan juga memerintahkan supaya kedalaman kuburnya nantinya ditambahkan. " Dalamkanlah liang lahatku, " tuturnya.

Al-Baihaqi yang tutup usia pada umur 74 tahun itu mengutip kisah Abu ad-Darda'. Ketika sahabat Nabi tersebut menderita sakit, seorang sahabatnya datang. Lelaki itu berkata, "Wahai Abu ad-Darda', sesungguhnya engkau hampir meninggal dunia maka perintahkanlah aku suatu perkara yang bermanfaat bagiku dan akan mengingatkanmu."

Abu ad-Darda' menjawab, "Sungguh, engkau di antara umat yang diampuni maka dirikanlah shalat, tunaikan zakat hartamu, berpuasa Ramadhan, dan jauhilah perkara keji, kemudian beritakanlah kabar gembira." Merasa tidak puas, lelaki itu pun bertanya ulang. Abu ad-Darda' membalas dan memintanya duduk dan merenung kan perkataannya.

"Bayangkan ketika engkau berada di hari, tatkala tak ada lagi ruang kecuali liang lahat yang luasnya dua hasta sedang kan panjangnya empat hasta. Keluarga yang konon tak bisa berpisah denganmu hari itu meninggalkanmu sendiri, kolegamu yang dulu membuat megah rumahmu kelak akan menimbunmu dengan tanah lantas beranjak pergi darimu."

Pada saat itu, sambung Abu ad-Darda', dua malaikat berwarna hitam biru berambut keriting datang. Mereka adalah Munkar dan Nakir. Ia akan menanyakan identitasmu, agama, Tuhan, dan nabi.

"Jika jawabanmu tidak tahu menahu maka demi Allah engkau telah tersesat dan merugi. Sedangkan, bila jawabanmu adalah Muhammad Rasulullah dengan kitab sucinya Alquran maka demi Allah engkau selamat dan mendapat petunjuk. Kesemua itu tidak akan mampu engkau ucapkan kecuali dengan peneguhan yang dikaruniakan Allah." (republika.co.id)

Antara Miras, Pembunuh Bayi dan Pemerkosa

Efek tidak baik dari miras serta semacamnya pada masyarakat kiranya telah di ketahui secara jelas. Sayangnya, sikap yang diperlihatkan beberapa orang-orang serta bahkan juga pemerintah belum seragam serta tegas dalam melarang produksi serta peredaran miras itu.
Antara Miras, Pembunuh Bayi dan Pemerkosa

Walaupun kita akui, beberapa pemda, ormas, dan masyarakat sudah mengambil sikap 'sendiri' pada peredaran miras dengan sikap yang tegas, menampik peredaran miras.

Terjadinya tindak kriminil, seringkali diawali dari dampak minuman keras yang ditenggaknya. Lantaran dengan miras, konon keberanian pelaku jadi bertambah, rasa takut serta kurang percaya diri jadi hilang, kontrol serta akal sehat jadi lemah bahkan juga hilang, hingga tindakannya jadi ngawur serta lepas kendali.

Akibatnya, dia bisa bertindak nekat dan di luar batas kemanusian. Dia bisa menodong, menjambret, melukai dan bahkan membunuh. Yang memprihatinkan adalah seperti yang terjadi baru-baru ini, sudah memperkosa korban lalu membunuhnya, sungguh perbuatan yang sangat biadab.

Sikap Islam sangat tegas terhadap miras. Miras hukumnya haram, dan pelakunya dianggap telah melakukan dosa besar serta dikenakan hukuman berupa dicambuk/dipukul sebanyak 40 atau 80 kali cambukan.

Nabi Muhammad SAW juga menyatakan khamr (miras) adalah ummul khaba 'its (induk dari segala kejahatan) sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, "Khamr adalah induk dari kekejian dan dosa yang paling besar, barang siapa meminumnya, dia bisa berzina dengan ibunya, saudari ibunya, dan saudari ayahnya." (HR ath-Thabrani)

Dengan redaksi yang sedikit berbeda, Abdullah bin Amr meriwayatkan, bahwa Nabi SAW bersabda, "Khamr adalah induk dari segala kejahatan, barang siapa meminumnya, maka shalatnya tidak diterima selama 40 hari, apabila dia mati sementara ada khamr di dalam perutnya, maka dia mati sebagaimana matinya orang Jahiliyah." (HR ath-Thabrani)

Bahaya miras juga telah diingatkan oleh salah seorang sahabat Rasulullah SAW Utsman bin Affan. Diriwayatkan, suatu ketika Utsman sedang menyampaikan khutbah kemudian berpesan, "Waspadalah terhadap miras karena sesungguhnya miras merupakan induk segala perbuatan keji. Sungguh, pernah terjadi pada seorang pria saleh sebelum kalian dari kalangan ahli ibadah. Dia rajin beribadah ke masjid. Suatu ketika dia bertemu dengan seorang perempuan nakal."

"Perempuan tersebut memerintahkan kepada pembantunya agar mempersilakan lelaki tersebut masuk ke dalam rumah. Kemudian pintunya dikunci rapat-rapat. Di sisi perempuan tersebut terdapat miras dan seorang bayi. Kemudian perempuan tadi berkata, 'Kamu tidak bisa keluar dari rumah ini sebelum engkau memilih minum segelas arak ini atau engkau berzina denganku, atau engkau membunuh bayi ini. Jika kamu tidak mau, maka saya akan berteriak dan saya katakan bahwa kamu ini memasuki rumahku. Siapa yang akan percaya kepadamu?'

Lelaki tersebut menjawab, "Saya tidak mau melakukan perbuatan keji (berzina) atau pun membunuh jiwa seseorang." Akhirnya dia minum segelas miras. Demi Allah, dia menjadi mabuk sehingga dia pun berbuat zina dengan perempuan tersebut dan membunuh si bayi.

Utsman RA pun berpesan, "Jauhilah minum minuman keras, karena minuman keras merupakan induk segala perbuatan keji. Demi Allah, sungguh, iman dan minuman keras tidak akan bersatu di dalam hati seseorang melainkan hampir pasti salah satu di antaranya melenyapkan yang lain."

Setelah menyadari bahaya miras, masihkah kita bersikap lembek terhadapnya? Ataukah masih butuh korban lebih banyak lagi baru mau mengambil tindakan? (republika,co.id)

'Nikmat Tuhan Mana Lagi yang Kamu Dustakan?'

Hidup ini kejam, kata politikus. Hingga, banyak politikus sama-sama tuntut di pengadilan. Hidup ini pahit, kata pedagang sayur. Pahitnya melebihi buah pare. Itulah fakta yang kerap kita hadapi dalam keseharian. Pedagang yang cerdas menyaksikan kesemrawutan jadi kesempatan. Ia menyaksikan setiap kerugian sebagai titik awal meraih keuntungan. Sesaat, pedagang yang malas cuma menunggu hari mujur, walau sebenarnya setiap hari yaitu hari mujur.
'Nikmat Tuhan Mana Lagi yang Kamu Dustakan?'

Sering kali kita saat menerima musibah, menjadikannya titik awal untuk mendapat musibah kedua yang kita ciptakan sendiri. Bukankah Ibnu Batutah, petualang Islam abad pertengahan, terdampar di sebuah pulau akibat perahunya karam. Ia tak pesimistis, tetapi sebaliknya, Ibn Batutah berhasil menjadikan pulau itu sebuah negara. Itulah Maladewa, negara sejuta cinta.

Kita sering pesimistis ketika melihat sesuatu telah telan jur terjadi. Padahal, tak ada sesuatu yang terjadi kecua li atas kehendak-Nya. Karena itu, jika rezeki yang kita dapat hari ini hanya sekantong jeruk yang kecut, jangan dibuang. Peras dan tambahkanlah gula, lalu campur dengan es batu dan hidangkan saat panas menyengat. Jeruk asam itu menjadi sangat nikmat.

"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?" (QS ar-Rahman: 13) Maka, nikmatilah ketentuan Allah atas kita untuk kita optimalkan sesuai kemampuan yang kita miliki. Dengan itu, kita akan menjadi pribadi yang sempurna.

Tabiat dunia itu penuh jebakan dan kepuasan yang kita dapatkan darinya tak lebih dari sesaat. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, "Bukankah dunia itu terlaknat, terlaknat pula jika (mengejarnya) kecuali dengan berzikir kepada Allah SWT." Jika semua usaha menggapai kebaikan sudah kita lakukan, tapi kok masih saja ada yang mengganjal, bergegaslah ambil air wudhu dan dirikanlah shalat.

Rasulullah SAW acap meminta Bilal dengan berkata, "Segarkan kami wahai Bilal (dengan kau kumandangkan) shalat." Shalat adalah ibadah yang sangat eksotis. Kita bersimpuh di hadapan pemilik semua sandiwara kehidupan dunia ini dengan meletakkan kening di atas sajadah. Tanah yang padanya kita letakkan kening itu telah membuat seluruh persoalan dunia yang kita hadapi seakan ikut ditelan bumi. Bagi seorang mukmin, shalat menjadi kekuatan energinya dalam bermi'raj kepada Allah SWT. Wallahu a'lam. (republika)

Mengumbar Janji dalam Islam

Mengumbar janji yaitu tingkah laku banyak memberi janji dengan cara mudahnya pada orang lain untuk lakukan satu perbuatan yang besar atau istimewa. Perbuatan yang dijanjikan itu bakal dikerjakannya pada saat tertentu tanpa disertai hasrat kuat untuk memenuhi atau cuma bualan (dusta) semata.
Mengumbar Janji dalam Islam

Hal semacam ini umumnya dikerjakan oleh seorang yang menginginkan memperoleh kepercayaan, simpati, support, serta kesetiaan dari orang lain pada dirinya. Serta, umumnya hal semacam ini berlangsung pada saat kampaye.

Dalam ajaran Islam, janji bukanlah masalah yang ringan atau sepele. Janji merupakan masalah besar yang berpengaruh bagi kebaikan atau kecelakaannya di dunia maupun di akhirat. Dan, janji itu akan diminta pertanggungjawabannya oleh Allah SWT. Allah SWT berfirman, "Dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya." (QS al-Isra [17]: 34).

Dalam ayat yang lain, Allah SWT berfirman, "Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji." (QS an-Nahl [16]: 91). Orang yang mengumbar janji tanpa mau memenuhinya termasuk di antara sifat munafik.

Rasulullah SAW bersabda, "Ada empat (perkara) jika terdapat pada diri seseorang, dia adalah orang munafik murni. Dan barangsiapa yang melakukan salah satu perkara itu, maka padanya terdapat bagian dari sifat munafik, hingga ia meninggalkannya. Empat perkara itu adalah apabila berbicara ia dusta, apabila berjanji ia ingkar, dan apabila diberi amanat (dipercaya) ia berkhianat, dan apabila bermusuhan dia aniaya." (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa'i).

Selain itu, mengumbar janji tanpa niat untuk melakukannya termasuk perbuatan dusta. Pada suatu ketika Nabi Muhammad SAW mendengar seorang ayah yang sedang berkata kepada anak-anaknya, "Aku akan memberikan anu dan anu kepadamu."

Nabi Muhammad SAW bersabda kepadanya, "Apakah kamu berniat akan memberinya?" Dia berkata, "Tidak." Nabi SAW bersabda, "Engkau harus memberinya atau berkata benar. Sesungguhnya Allah melarang berbuat dusta."

Orang itu berkata, "Ya Rasulullah, apakah ini termasuk dusta?" Beliau bersabda, "Sesungguhnya segala sesuatu itu dituliskan. Dusta dituliskan dusta dan dusta kecil (sedikit) ditulis dusta kecil." (HR Ahmad dan Ibnu Abu Dunya).

Oleh karena itu, sebagai seorang Muslim tidak pantas baginya berperilaku banyak mengumbar janji karena janji adalah utang yang harus dipenuhi sekecil atau seringan apa pun janji tersebut.

Selain itu, bila kita banyak berjanji tapi tidak menepatinya, akan mengurangi kredibilitas diri dalam pandangan manusia. Adapun bila sengaja tidak melakukannya termasuk telah melakukan dosa besar.

Karena begitu besarnya dampak dari mengumbar janji terhadap kehidupan kita, kita harus berhati-hati dalam menjanjikan sesuatu. Jika memang sesuatu itu terasa berat dan di luar kemampuan dan kapasitas kita, selayaknya kita tidak menjanjikannya. Wallahu a'lam. (republik.co.id)

Ada Apa di Bulan Sya'ban?

Bulan Sya'ban adalah bln. kedelapan dalam kalender Hijriyah. Dalam bln. ini, ada keutamaan, hikmah, dan beberapa momen epik dalam histori Islam. Satu diantara yang terutama yaitu dipindahkannya kiblat salat dari Baitul Maqdis atau Masjidil Aqsa ke arah Ka'bah
Ada Apa di Bulan Sya'ban?

Nama Sya'ban diambil dari kata sya'bun yang bermakna golongan. Penamaan ini dikaitkan dengan kebiasaan masyarakat Arab jahiliyah yang suka berkelompok untuk berperang.Ada pula yang menamakan Sya'ban karena orang-orang Arab pada bulan tersebut yatasya'abun (berpencar) untuk mencari sumber air.

Bulan Sya'ban berada di antara dua bulan penting, yakni antara Rajab dan Ramadhan. Rasulullah SAW pernah mengatakan bahwa Sya'ban adalah bulan yang sering dilupakan oleh umat dibanding dua bulan yang mengapitnya. Padahal, jika seorang Muslim sungguh-sungguh beribadah pada bulan Sya'ban, ia dipercaya akan menuai kesuksesan ketika Ramadhan.

Rasulullah SAW bersabda, "Bulan Sya'ban adalah bulan di mana manusia mulai lalai, yaitu di antara bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan." (HR an-Nasa'i).

Kesungguhan beribadah pada bulan Sya'ban juga dipraktikkan oleh Rasulullah SAW. Aisyah Radhiyallahu Anha pernah mengatakan, belum pernah Nabi berpuasa satu bulan yang lebih banyak daripada puasa bulan Sya'ban. Terkadang, beliau hampir berpuasa sebulan penuh saat Sya'ban. (HR Bukhari dan Muslim).

Beberapa ulama memaknai banyaknya Rasulullah SAW berpuasa pada bulan Sya'ban sebagai persiapan diri menyambut Ramadhan. Bulan Sya'ban adalah bulan riyadhah (latihan). Bulan peningkatan kapasitas diri. Kualitas amalan pada Ramadhan bisa jadi ditentukan bagaimana persiapan seseorang pada bulan Sya'ban.

Hendaknya kaum Muslim tidak melalaikan bulan ini meski tengah bersiap menyambut Ramadhan. Amalan yang dianjurkan memang memperbanyak puasa. Namun, bukan berarti amalan sunah lain tak ditingkatkan. Saat semua amal baik kala Ramadhan dilipatgandakan ganjarannya, membiasakan semua amal sunah saat Sya'ban adalah investasi.

Allah SWT pun memberi keistimewaan pada bulan Sya'ban. Rasulullah SAW pernah bersabda, "Sesunggunya Allah melihat pada malam pertengahan Sya'ban. Maka, Dia akan mengampuni semua makhluknya, kecuali orang-orang musyrik dan orang-orang yang bermusuhan. (HR Ibnu Majah dan at-Thabrani).

Memang terjadi silang pendapat tentang hadis nisyfu Sya'ban atau pertengahan bulan Sya'ban. Ada yang menyahihkannya ada yang mendhaifkannya.

Namun, anjuran memperbanyak amalan, utamanya puasa selama Sya'ban, mengindikasikan amal saleh mendapat balasan besar pada bulan ini. Karena itu, mengisi malam nisyfu Sya'ban dengan berbagai amal saleh tak ada salahnya.

Hadis-hadis di atas menerangkan bahwa Sya'ban memiliki nilai dan hikmah tersendiri. Selain itu, pada bulan ini juga terjadi beberapa peristiwa penting dalam sejarah Islam. Pada bulan Sya'ban, kiblat dipindahkannya dari Masjidil Aqsa ke arah Ka'bah. Rasulullah SAW dikisahkan sangat menantikan peristiwa tersebut.

Setiap hari Rasulullah SAW selalu memandang dan menengadahkan pandangannya ke langit menanti wahyu. Hingga Allah SWT mewujudkan harapan dan merealisasikan permintaannya. Ketika itu, turunlah firman Allah, "Sungguh Kami (sering) melihat wajahmu menengadah ke langit. Maka, niscaya Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu suka. Palingkanlah muka ke arah Masjidil Haram. Dan, di mana saja kamu berada, palingkanlah wajahmu ke arahnya." (QS al-Baqarah [2]: 144). (republika)

5 Adab Guru dan Kedudukannya dalam Islam

Sejatinya, tugas guru yaitu membangun peradaban masyarakat serta bangsa. Kini, kita rasakan keprihatinan mengagumkan atas ramainya tingkah laku menyimpang di kelompok beberapa pelajar, seperti tawuran, perusakan, (bullying), contek massal, pemakaian narkoba, serta praktek seks bebas. Walau bukanlah hanya satu pihak yang paling bertanggungjawab, tetapi guru terposisi sebagai pihak paling diinginkan peran serta fungsinya untuk mengatur tingkah laku anak-anak kita.
5 Adab Guru dan Kedudukannya dalam Islam

Peradaban yang selamat dan menyelamatkan membutuhkan sosok guru yang terampil mengajarkan ilmu (pengajar) dan bisa jadi suri tauladan (pendidik). Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh aku telah diutus (oleh Allah) sebagai seorang pengajar" (HR Ibnu Majah).

Sebagai pengajar, Rasulullah merupakan sosok yang bijaksana, melimpah kasih sayangnya, metode pengajarannya menyenangkan, ucapannya lugas dan jelas, cerdas, memiliki perhatian yang besar kepada semua muridnya. Sebagai pendidik, Rasulullah SAW merupakan pribadi dengan akhlak yang mulia (QS al-Qalam: 4).

Ketika anak-anak kita menunjukkan perilaku tidak beradab di tengah-tengah masyarakat, maka para guru mesti bermuhasabah, masihkah para guru berkomitmen dan konsisten mengamalkan adab menjadi seorang guru?

Adab merupakan akhlak, moral, tata krama, etik, nilai, atau pandangan hidup (Pusat Bahasa Kemdiknas, 2008). Jadi, adab guru adalah akhlak guru atau nilai-nilai yang mendasari keyakinan guru dalam berpikir dan bersikap. Ada lima adab yang harus istiqomah diamalkan guru sebagai pengajar maupun pendidik.

Pertama, mengajar bukan karena tujuan ingin mendapatkan imbalan dan bukan pula karena mengharapkan ucapan terima kasih. Mengajar diniatkan sebagai salah satu cara untuk beribadah dengan mengharapkan ridha Allah SWT.

Kedua, mengingatkan murid akan akhlak yang buruk dengan ungkapan kasih sayang, tidak secara terang-terangan, dan dengan ungkapan yang lemah lembut bukan celaan. Alangkah lebih baiknya para guru merenungi kata-kata hikmah dari Imam as-Syafie: "Siapa yang menasihatimu secara sembunyi-sembunyi, maka dia benar-benar menasihatimu. Siapa yang menasihatimu di khalayak ramai, dia sebenarnya menghinamu". Nasihatilah murid-murid kita dengan kasih sayang dan menutupi aibnya agar tidak diketahui orang lain.

Ketiga, dianjurkan saat memberikan pelajaran, guru menjelasan secara gamblang agar bisa dipahami oleh semua murid, bahkan oleh murid dengan kemampuan daya tangkap rendah sekali pun. Imam Tirmidzi dalam Kitab asy-Syamail meriwayatkan dari Aisyah ra bahwasanya dia berkata: "Rasulullah SAW tidak pernah berkata dengan tergesa-gesa sebagaimana yang biasa kalian lakukan. Akan tetapi, beliau berkata dengan ucapan yang sangat jelas dan rinci, sehingga orang lain yang duduk bersamanya akan dapat memahami setiap perkataan beliau" (HR Imam Tirmidzi).

Keempat, guru menyayangi murid-muridnya seperti mereka menyayangi anak-anaknya sendiri. Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya aku bagi kalian tiada lain hanyalah seperti orangtua kepada anaknya. Aku mengajari kalian." (Ibnu Majah melalui Abu Hurairah)

Kelima, hendaknya guru berbuat sesuai dengan ilmunya, tidak mendustakan antara perkataan dan perbuatan. Allah SWT berfirman, "Apakah kamu menyuruh manusia (melakukan) kebajikan dan kamu melupakan (untuk menyuruh) diri kamu sendiri..." (QS. al-Baqarah: 44).

Ketika murid tak mau mendengarkan dan mengikuti nasihat guru, alih-alih kita marah dan menyalahkan perilaku murid, marilah bertanya dahulu pada diri sendiri, "Apakah saya sudah menjadi guru yang beradab? Sudahkah saya melakukan apa yang saya katakan kepada murid-murid?" Jangan pernah berdusta pada diri sendiri dan para murid! Jika murid saja tak suka apalagi Allah SWT (QS ash-Shaff: 3).

Kurma Rasulullah untuk Lelaki yang 'Celaka'

Sahabat Abu Hurairah pernah bercerita, saat kami (para sahabat) tengah duduk berbarengan Rasulullah SAW, mendadak datang seseorang lelaki serta mengadu padanya, " Duhai utusan Allah, saya sudah celaka. " " Apa yang membuat kamu celaka? " bertanya Rasulullah. " Saya sudah menggauli istriku, serta saya tengah berpuasa (Ramadhan), " kata lelaki tadi mengadu.
Kurma Rasulullah untuk Lelaki yang 'Celaka'

"Apakah kamu punya budak untuk dibebaskan (sebagai kafarat)?" kata Rasulullah bertanya dengan tenang. "Tidak," jawab lelaki itu. Rasulullah bertanya lagi, "Apakah kamu bisa berpuasa dua bulan berturut-turut?" "Tidak," lelaki itu kembali menjawab. "Kalau memberi makan enam puluh orang miskin, bisa?" Lelaki itu tetap menjawab, "Tidak."

Rasulullah lalu bangkit, dan tidak lama kemudian, beliau datang kembali membawa keranjang besar berisi kurma. Rasulullah memberikan sekeranjang kurma itu kepada lelaki tadi dan berpesan, "Ambil dan bersedekahlah dengan kurma ini."

Tetapi, lelaki tadi protes, "Duhai utusan Allah... Memangnya di Madinah ini ada seseorang yang lebih berhak menerima sedekah dariku? Demi Allah, di antara bumi Madinah ini tidak ada keluarga yang lebih fakir dari keluargaku." Lalu, Rasulullah tertawa hingga terlihat gigi taringnya. Rasulullah lalu berkata, "Berikanlah kurma ini kepada keluargamu." (HR Bukhari: 1834).

Sepanjang sejarah peradaban, bisa dipastikan tidak ada seorang manusia pun yang memiliki kasih sayang sesempurna Rasulullah SAW (al-Rahmah al-Syamilah). Kasih sayang Rasulullah terhadap manusia, terlebih umatnya, tidak hanya terbatas pada mereka yang taat saja, tetapi juga pada mereka yang sudah jelas melakukan perbuatan dosa.

Sebagai umat Rasulullah, kita malah sering kali berlaku sebaliknya terhadap saudara kita yang melakukan perbuatan dosa, alih-alih membimbingnya kembali kepada kebaikan dengan kasih sayang, kita sering kali malah mencaci maki dan bahkan melakukan perbuatan keji. Dan, kita juga kerap kali "merasa lebih suci" dari saudara-saudara kita yang melakukan perbuatan dosa.

Jangankan kepada saudara kita yang berbuat dosa, tak disadari kita juga berlaku keji dan jauh dari yang Rasulullah ajarkan kepada saudara sesama Muslim yang hanya berbeda pendapat dengan kita.

Bayangkan, Rasulullah SAW sama sekali tak menampakkan kekesalan, kemarahan, atau bahkan kebencian terhadap lelaki yang mengaku telah berbuat dosa di hadapannya. Rasulullah malah menyambutnya dengan penuh kasih sayang, dengan harapan lelaki itu tidak akan mengulangi perbuatan dosanya kembali.

Dakwah yang diajarkan Rasulullah kepada kita umatnya adalah dakwah dengan kasih sayang. Sudah seharusnya kita yang mengaku sebagai umat Rasulullah mengikuti semua ajaran Beliau SAW. Menebarkan kasih sayang kepada sekalian alam, bukan menebar kebencian. (republika.co.id)