Kisah Nabi Ilyas dan azab untuk kaum Bani Israil

Nabi Ilyas adalah putra Yasin bin Finhash dan salah satu keturunan Nabi Harun. Dia diutus oleh Allah SWT untuk menjadi seorang Nabi dan menjadi pembimbing bagi kaum Yordan. Beliau mendapat amanat untuk mengajak kaum Israil kembali kepada ajaran Allah. Ketika itu kaum Bani Israil terkenal akan kebiasaan menyembah berhala yang bernama Baal. Berhala itu berada di tengah-tengah kota, sehingga kota tersebut dijuluki dengan kota Baalbak.
Kisah Nabi Ilyas dan azab untuk kaum Bani Israil

Dikutip dari buku Kisah Hikayat Nabi Ilyas AS Dalam Islam, karya Muhammad Xenoryuki menjelaskan, Nabi Ilyas memulai misinya dengan berdakwah kepada kaum Bani Israil. Beliau selalu mengingatkan dan mengajak kaum Bani Israil untuk kembali kepada ajaran Allah. Ketika Nabi Ilyas melihat kenyataan bahwa kaumnya sedang menyembah berhala Baal, Nabi Ilyas berkata kepada kaumnya, "Mengapa kamu tidak bertakwa? Patutkah kamu menyembah Baal dan kamu tinggalkan sebaik-baik Pencipta, (yaitu) Allah Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapakmu yang terdahulu?". (QS As-Saffat ayat 124-126).

Mendengar ajakan dari Nabi Ilyas, kaum Bani Israil begitu marah dan berkata, "Hai Ilyas, berani sekali engkau meminta kepada kaum kami untuk meninggalkan tuhan-tuhan kami. Sesungguhnya, kami melakukan hal itu karena bapak-bapak kami juga telah melakukan hal tersebut," seru kaum Bani Israil kepada Nabi Ilyas.

Bahkan kaum Bani Israil terang-terangan menghina dan mengejek Nabi Ilyas. Walaupun begitu, Nabi Ilyas tetap sabar dan terus berdakwah kepada kaum Bani Israil.

Sementara itu, kaum Bani Israil bersekongkol untuk menyingkirkan Nabi Ilyas. Mereka mengejar-ngejar dan mengusir Nabi Ilyas. Nabi Ilyas pun terpaksa berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk menghilangkan jejaknya agar terhindar dari kejahatan kaum Bani Israil. Dalam pelariannya tersebut, Nabi Ilyas sampai di sebuah rumah yang dihuni oleh keluarga yang baik hati.

Mereka menerima Nabi Ilyas tanpa pamrih. Saat itu, salah satu anggota keluarga di rumah itu sedang menderita sakit. Orang itu adalah Nabi Ilyasa yang beberapa tahun kemudian diutus menjadi Nabi dan menemani dakwah Nabi Ilyas.

Ketika masih muda, Nabi Ilyasa menderita sakit keras. Akhirnya, Nabi Ilyas berdoa kepada Allah SWT untuk memohon kesembuhan Nabi Ilyasa. Dengan izin Allah, Nabi Ilyasa sembuh dari penyakitnya tersebut. Sikap yang dilakukan Nabi Ilyas, dalam menyembuhkan Nabi Ilyasa membuatnya tertarik untuk mengikuti ajaran Nabi Ilyas. Setelah Nabi Ilyasa melihat Nabi Ilyas dapat menyembuhkan penyakitnya yang cukup parah melalui pertolongan Allah SWT, hal itu menjadi bukti baginya mengikuti ajaran Nabi Ilyas dan beribadah kepada Allah. Sejak sat itu Nabi Ilyas memiliki teman untuk berdakwah.

Sementara itu, tiga tahun telah berlalu sejak Nabi Ilyas diusir oleh kaum Bani Israil. Kaum Bani Israil dilanda kekeringan selama tiga tahun, mereka sangat menderita karena kelaparan dan kematian pun menjadi pemandangan sehari-hari. Mereka mengalami kekurangan air, dan hidup tersiksa. Di samping itu, banyak tanaman dan binatang ternak yang akhirnya mati. Kekeringan terus berlanjut dan tidak ada tanda-tanda kapan akan berakhir. Akhirnya beberapa tokoh masyarakat berkumpul dan membicarakan masalah kekeringan di kota mereka.

Salah seorang dari kaum Bani Israil berkata, "Kita telah diinatkan oleh Ilyas sebelumnya. Akan tetapi, kita tidak memedulikannya, bahkan kita mengusirnya. Sekarang, apa yang diucapkannya telah terjadi kepada kita". "Lalu, apa usulmu untuk terhindar dari azab ini?," jawab salah satu kaum Bani Israil. "Kita harus menemukan Ilyas dan bertobat kepada Allah. Lalu, kita minta Ilyas agar memohon kepada Allah untuk tidak mengazab kita," usul salah satu kaum Bani Israil.

Seketika itu mereka berbondong-bondong dan bertekad mencari Nabi Ilyas, mereka berharap agar Nabi Ilyas dapat membantu mereka keluar dari penderitaan yang telah berlangsung lama tersebut.

Setelah melakukan pencarian yang cukup lama, akhirnya kaum Bani Israil dapat menemukan Nabi Ilyas yang telah ditemani Nabi Ilyasa. Mereka memohon kepada Nabi Ilyas untuk membantu keluar dari penderitaan akibat kemarau yang panjang menimpa mereka selama tiga tahun terakhir. Kaum Bani Israil berjanji kepada Nabi Ilyas akan beriman kepada Allah dan mentaati perintah Nya. Kemudian, mereka pun menghancurkan berhala-berhala mereka secara beramai-ramai. Kaum Bani Israil pun segera beriman kepada Allah.

Melihat penderitaan kaum Bani Israil, akhirnya Nabi Ilyas luluh karena tidak tega melihat penderitaan mereka. Nabi Ilyas kemudian berdoa kepada Allah SWT agar kaum Bani Israil diberikan rahmat-Nya dengan menurunkan hujan. Tak lama kemudian, hujan turun membasahi kota Baalbak. Tanaman mulai tumbuh, dan orang-orang serta binatang mulai dapat menggunakan air sesuai dengan kebutuhan mereka. Kaum Bani Israil pun kembali hidup makmur dan sejahtera.

Namun beberapa tahun kemudian, kaum Bani Israil kembali pada kebiasaan mereka dan mengingkari janjinya dengan kembali menyembah berhala dan menggunakan harta benda mereka untuk berbuat maksiat. Akhirnya Nabi Ilyas kembali berdoa kepada Allah agar kaum Bani Israil mendapatkan azab-Nya. Tak lama kemudian, mereka tertimpa azab dari Allah SWT. (merdeka.com)

Manakah yang lebih baik, miskin yang sabar ataukah kaya yang bersyukur?

Bila kita disodori dua pilihan Manakah yang lebih baik, miskin yang sabar ataukah kaya yang bersyukur?, jujur saja, bakal banyak diatara kita yang mengambil pilihan ke-2, kaya yang bersukur. Lantaran secara perasaan, kita lebih siap untuk nikmati kekayaan daripada menanggung derita kemiskinan.
 Manakah yang lebih baik, miskin yang sabar ataukah kaya yang bersyukur?

Antara Nabi Ayub & Nabi Sulaiman ‘alaihimas Salam

Dalam perjalanan panjang sejarah kehidupan manusia, Allah sudah mencipatakan dua jenis manusia diatas, supaya dijadikan contoh untuk orang-orang generasi selanjutnya.

Allah menciptakan Nabi Ayub sebagai sosok yang di kenal begitu penyabar, di dalam ujian begitu berat yang beliau alami. Kadang-kadang ada orang yang di beri nikmat harta tetapi tak mempunyai nikmat sehat. Dia tak dapat menikmati hartanya, lantaran sakit-sakitan.

Demikian sebaliknya, ada yang di beri nikmat sehat wal-afiyat namun tak berharta. Saat dia mengidamkan untuk menikmati beberapa hal, tetapi tak dapat terwujud. Lantaran kantongnya kurang untuk mencapainya. Yang berlangsung pada Nabi Ayub, beliau memperoleh kedua-duanya. Beliau menanggung derita kemiskinan begitu kronis, serta sakit fisik yang juga begitu mengenaskan. Allah sebutkan doa Ayub,

وَاذْكُرْ عَبْدَنَا أَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الشَّيْطَانُ بِنُصْبٍ وَعَذَابٍ

Ingatlah hamba Kami, Ayub. Ketika dia berdoa memanggil Rabnya, “Sesunngguhnya setan menimpakan kemadharatan kepada dengannusb dan adzab.” (QS. Shad: 41)

Sebagian ahli tafsir menyebutkan,

Makna nusb : musibah sakit yang beliau derita

Makna adzab : musibah yang membersihakn semua harta dan anaknya.

Sebelumnya, Ayub adalah oang soleh yang sangat kaya, hartanya melimpah dan memiliki banyak anak. Allah mengujinya, dengan membalik keadaannya. Hebatnya, datangnya semua ujian itu terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Semua anaknya diambil berikut hartanya. Sanak kerabatnya menjauhinya, hingga beliau harus keliling dari satu sampah ke sampah untuk mendapatkan sesuap makanan. Sampai akhirnya beliau sakit parah, tidak ada bagian kulit seluas titik jarum yang sepi dari penyakit. Semua orang menjauhinya, selain satu istrinya yang setia mendampinginya, karena imannya kepada Allah. Semoga Allah meridhai istri Ayub. Menurut catatan Ibnu Katsir, ini terjadi selama 18 tahun. (Tafsir Ibn Katsir, 7/74).

Di sisi lain, Allah ciptakan Nabi Sulaiman sebagai sosok yang dikenal sangat pandai bersyukur, di tengah melimpahnya fasilitas dunia yang beliau miliki. Beliau menjadi raja yang kekuasaan meliputi alam manusia, jin, dan binatang. Itulah doa beliau yang Allah kabulkan, sehingga beliau menjadi penguasa paling top markotop diantara manusia.

قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

Sulaiman berdoa, wahai Rabku, berikanlah aku kerajaan yang tidak layak untuk dimiliki oleh seorangpun sesudahku. Sesungguhnya Engkau Dzat Yang Maha Pemberi. (QS. Shad: 35)

Dua model manusia ini, Allah sandingkan ceritanya dalam surat Shad, antara ayat 30 sampai 44. Dan keduannya, baik Ayub maupun Sulaiman, Allah sebut di akhir cerita,

نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ

Dia (Sulaiman dan Ayub) adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia orang yang suka bertaubat. (QS. Shad: 30 dan 44).

Artinya, baik miskin yang sabar maupun kaya yang bersyukur, di sisi Allah statusnya sama-sama hamba yang baik. Tinggal selanjutnya, siapa yang lebih bertaqwa diantara mereka, itulah yang terbaik. Allah berfirman,

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah diantara kalian adalah orang yang paling bertaqwa. (QS. al-Hujurat: 13).

Sosok Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Beliau Uswatun Hasanah bagi umat. Satu-satunya manusia yang hidupnya dijadikan sumpah oleh Allah. Ketika Allah menceritakan kejahatan kaum sodom, Allah bersumpah menyebut ‘Demi umurmu.’

لَعَمْرُكَ إِنَّهُمْ لَفِي سَكْرَتِهِمْ يَعْمَهُونَ

Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka mabuk dalam kesesatan. (al-Hijr: 72).

Allah bersumpah demi umur, kehidupan dan keberadaan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dunia.

Ibnu Katsir menyebutkan riwayat keterangan dari Ibnu Abbas,

ما خلق الله وما ذرأ وما برأ نفسًا أكرم عليه من محمد صلى الله عليه وسلم، وما سمعت الله أقسم بحياة أحد غيره

Belum pernah Allah menciptakan dan menumbuhkan manusia yang lebih mulia dari pada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku belum pernah mendengar Allah bersumpah dengan kehidupan seorangpun selain beliau. (Tafsir Ibnu Katsir, 4/542).

Dalam urusan syukur dan sabar, beliau mengumpulkan akhlak Nabi Ayub dan akhlak Nabi Sulaiman. Beliau kaya yang bersyukur dan sekaligus miskin yang sabar.

Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu menceritakan,

مَا سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلَى الإِسْلاَمِ شَيْئًا إِلاَّ أَعْطَاهُ – قَالَ – فَجَاءَهُ رَجُلٌ فَأَعْطَاهُ غَنَمًا بَيْنَ جَبَلَيْنِ فَرَجَعَ إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ أَسْلِمُوا فَإِنَّ مُحَمَّدًا يُعْطِى عَطَاءً لاَ يَخْشَى الْفَاقَةَ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah diminta untuk kemaslahatan islam, kecuali beliau pasti memberinya. Hingga suatu ketika datang seseorang (kepala suku), kemudian beliau memberikan kambing satu lembah kepada orang ini. Spontan dia pulang ke sukunya, dan mengatakan, “Wahai kaummu, masuklah ke dalam islam. Karena Muhammad memberikan harta layaknya orang yang tidak takut miskin.” (HR. Muslim 6160).

Dan hingga kini, kita belum pernah menjumpai ada orang yang mendermakan harta kambing satu lembah.

Beliau juga pernah memotong 100 ekor onta. Jika satu onta seharga 12 juta, berarti beliau berkurban senilai kurang lebih 1,2 Milyar. Itu korban perorangan, bukan perusahaan.

Di sisi lain, beliau pernah mengganjal perutnya dengan batu, karena tidak memiliki makanan. Beliau dan para istrinya tidak pernah kenyang selama 3 hari berturut-turut.

Aisyah menjadi saksi sejarah kehidupan di keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَا شَبِعَ آلُ مُحَمَّدٍ – صلى الله عليه وسلم – مُنْذُ قَدِمَ الْمَدِينَةَ مِنْ طَعَامِ الْبُرِّ ثَلاَثَ لَيَالٍ تِبَاعًا ، حَتَّى قُبِضَ

Tidak pernah keluarga Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam kenyang dengan makanan dari gandum halus selama 3 hari berturut-turut, sejak beliau tiba di Madinah hingga beliau diwafatkan. (HR. Bukhari 5416, Muslim 7633 dan yang lainnya).

Kita yakin, kondisi semacam ini tidak pernah kita jumpai di keluarga kita. Kita tidak pernah sampai berfikir: adakah makanan esok pagi? Bahkan untuk bisa kenyang selama 1 bulan, kita tidak pernah memikirkannya.

Mengalir Sesuai Keadaan

Siapapun orangnya, dia tidak akan bisa memilih dan memaksakan diri untuk menjadi miskin yang sabar atau kaya yang bersyukur. Anda yang berada dalam kondisi miskin, tidak bisa memaksa Sang Pencipta untuk menjadikan anda kaya. Demikian pula sebaliknya. Anda yang dalam kondisi kecukupan, tidak bisa memaksa Sang Kuasa untuk mengubah anda agar bisa mencicipi kemiskinan.

Itu berarti, yang seharusnya yang dominan di pikiran orang kaya bukan bagaimana bisa jadi miskin, namun bagaimana dia bisa memaksimalkan syukur kepada Allah. Karena itulah yang menjadi tugasnya. Dan Saya yakin, semua orang sepakat akan hal ini.

Kita simak kondisi sebaliknya, seharusnya yang fokus dipikirkan orang miskin bukan bagaimana dia bisa jadi kaya. Namun yang dia pikirkan, bagaimana dia bisa ridha dengan ketetapan Allah dan bersabar. Karena itulah tugasnya.

Anda sepakat ini??

Seperti inilah yang dinasehatkan oleh cucu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Hasan bin Ali Radhiyallahu ‘anhuma,

مَنِ اتَّـكَـلَ عَلَى حُسْنِ اخْتِيَارِ اللهِ لَـهُ لَـمْ يَـتَـمَنَّ شَيئًا

Siapa yang pasrah terhadap pilihan terbaik yang Allah berikan kepadanya, dia tidak berangan-angan untuk menggapai sesuatu yang lain. (Kanzul Ummal, Ibnu Asakir, no. 8538).

Jika ada yang komentar, ‘Berarti anda memotivasi orang miskin agar tetap jadi miskin, dan tidak bekerja, atau berusaha.’

Bagi yang berkomentar demikian, berarti daya tangkapnya terlalu rendah untuk memahami kalimat di atas. Sama sekali keterangan di atas tidak berisi motivasi orang miskin untuk tidak bekerja dan berusaha. Hanya menjelaskan tugas orang miskin di kondisi miskinnya, yaitu ridha dan bersabar. Sementara urusan bekerja dan mengejar dunia, ini sejalan dengan nafsunya, sehingga tidak perlu banyak motivasi.

Mukmin: Antara Sabar dan Syukur

Inilah tabiat setiap mukmin sejati. Mereka tidak pernah lepas dari dua tugas itu, antara bersyukur ketika mendapat nikmat dan bersabar ketika musibah. Bahkan tabiat ini membuat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamterheran dengan mereka. Dalam sebuah sabdanya, beliau memuji orang yang beriman,

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Sungguh mengherankan kondisi orang yang beriman, semua urusannya baik. Itu tidak dimiliki kecuali oleh orang yang beriman. Ketika dia mendapatkan kenikmatan, dia bersyukur, dan itu baik baginya. Dan ketika dia mendapatkan musibah, dia bersabar, dan itu baik baginya. ( 8/1/15 )

(HR. Muslim 7692 dan Ibnu Hibban 2896) (konsultasisyariah.com)

Dalam Makan Sahur Terdapat Keberkahan

Pada bln. Ramadhan ada amalan sunnah yang dapat dilakoni yakni makan sahur. Amalan ini disetujui oleh beberapa ulama dihukumi sunnah serta tidaklah wajib, seperti kata Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, 7 : 206. Tetapi amalan ini mempunyai keutamaan lantaran disebutkan penuh barokah.
Dalam Makan Sahur Terdapat Keberkahan

Dalam hadits muttafaqun ‘alaih, dari Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِى السَّحُورِ بَرَكَةً

“Makan sahurlah kalian karena dalam makan sahur terdapat keberkahan.” (HR. Bukhari no. 1923 dan Muslim no. 1095).

Yang dimaksud barokah adalah turunnya dan tetapnya kebaikan dari Allah pada sesuatu. Barokah bisa mendatangkan kebaikan dan pahala, bahkan bisa mendatangkan manfaat dunia dan akhirat. Namun patut diketahui bahwa barokah itu datangnya dari Allah yang hanya diperoleh jika seorang hamba mentaati-Nya.

Keberkahan dalam Makan Sahur

Memenuhi perintah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana diperintahkan dalam hadits di atas. Keutamaan mentaati beliau disebutkan dalam ayat,
مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ

“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (QS. An Nisaa’: 80).
Allah Ta’ala juga berfirman,

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

“Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al Ahzab: 71).

Makan sahur merupakan syi’ar Islam yang membedakan dengana ajaran Ahli Kitab (Yahudi dan Nashrani). Dari ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ

“Perbedaan antara puasa kita dan puasa Ahli Kitab (Yahudi dan Nashrani) adalah makan sahur.” (HR. Muslim no. 1096). Ini berarti Islam mengajarkan baro’ dari orang kafir, artinya tidak loyal pada mereka. Karena puasa kita saja dibedakan dengan orang kafir.

Dengan makan sahur, keadaan fisik lebih kuat dalam menjalani puasa. Beda halnya dengan orang yang tidak makan sahur. Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Barokah makan sahur amat jelas yaitu semakin menguatkan dan menambah semangat orang yang berpuasa.” (Syarh Shahih Muslim, 7: 206).
Orang yang makan sahur mendapatkan shalawat dari Allah dan do’a dari para malaikat-Nya. Dari Abu Sa’id Al Khudri, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
السُّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ فَلاَ تَدَعُوهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جَرْعَةً مِنْ مَاءٍ فَإِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ

“Makan sahur adalah makan penuh berkah. Janganlah kalian meninggalkannya walau dengan seteguk air karena Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada orang yang makan sahur.” (HR. Ahmad 3: 44. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih lighoirihi).

Waktu makan sahur adalah waktu yang diberkahi. Karena ketika itu, Allah turun ke langit dunia. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

“Rabb kita tabaroka wa ta’ala turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lantas Dia berfirman, “Siapa saja yang berdo’a kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka akan Aku beri. Siapa yang meminta ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 758).

Waktu sahur adalah waktu utama untuk beristighfar. Sebagaimana orang yang beristighfar saat itu dipuji oleh Allah dalam beberapa ayat,
وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ

“Dan orang-orang yang meminta ampun di waktu sahur.” (QS. Ali Imran: 17).

وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar. ” (QS. Adz Dzariyat: 18)


7. Orang yang makan sahur ditanggung dapat menjawab adzan shalat Shubuh serta dapat merasakan shalat Shubuh di waktunya dengan cara berjama’ah. Pasti ini yaitu satu kebaikan.

8. Makan sahur sendiri bernilai ibadah bila diniatkan untuk makin kuat dalam melaksanakan ketaatan pada Allah.

Dasarnya, makan sahur mempunyai bermacam keberkahan. Itulah rahasia-rahasia yang mungkin saja sebagian kita tak mengetahuinya.

Walhamdulillah, wa shallallahu wa sallam ‘ala nabiyyina Muhammad.

Apakah Mencium Istri Bisa Membatalkan Puasa?

Pasti anda bertanya, Apakah mencium istri bisa membatalkan puasa?

Imam Nawawi rahimahullah menyampaikan, “Tidak ada perselisihan diantara beberapa ulama kalau bercumbu atau mencium istri tak membatalkan puasa sepanjang tak keluar mani”. (Syarh Shahih Muslim, 7 : 215)
Apakah Mencium Istri Bisa Membatalkan Puasa?

Dari Jabir bin ‘Abdillah, dari ‘Umar bin Al Khaththab, beliau berkata,

هَشَشْتُ يَوْما فَقَبَّلْتُ وَأَنَا صَائِمٌ فَأَتَيْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَقُلْتُ صَنَعْتُ الْيَوْمَ أَمْراً عَظِيماً قَبَّلْتُ وَأَنَا صَائِمٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَرَأَيْتَ لَوْ تَمَضْمَضْتَ بِمَاءٍ وَأَنْتَ صَائِمٌ ». قُلْتُ لاَ بَأْسَ بِذَلِكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « فَفِيمَ »

“Pada satu hari saya rindu serta keinginanku muncul lalu saya mencium istriku walau sebenarnya saya tengah berpuasa, jadi saya mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta saya berkata, “Hari ini saya lakukan satu kekeliruan besar, saya sudah mencium istriku walau sebenarnya tengah berpuasa” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ajukan pertanyaan, “Bagaimana pendapatmu bila anda berpuasa lalu berkumur-kumur? ” Saya menjawab, “Seperti itu tak mengapa. ” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lalu apa masalahnya? ” (HR. Ahmad 1 : 21. Syaikh Syu’aib Al Arnauth menyampaikan kalau sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim)

Ulama Al Lajnah Ad Daimah pernah di tanya, “Jika ada yang mencumbu istrinya di siang hari bln. Ramadhan tanpa ada bersetubuh, tetapi keluar mani diluar, bagaimana hukum dalam permasalahan itu? ”

Jawab beberapa ulama di Komisi Fatwa itu, “Jika mencumbu istri tidak ada jima’ (hubungan intim) saat dalam kondisi berpuasa Ramadhan, tetapi keluar mani, maka puasanya batal. Lantas saat itu yang mengerjakannya harus menahan diri dari beragam pembatal puasa sampai terbenam matahari, lalu puasa hari itu ditukar serta banyaklah memohon ampun pada Allah lantaran kekeliruan itu. Tetapi kekeliruan ini tak dikenai keharusan kafarah (tebusan).

Semestinya yang melakukan puasa betul-betul melindungi diri dari beberapa hal yang bisa membatalkan serta mengakibatkan kerusakan puasanya. Orang yang berpuasa harus meninggalkan beragam syahwat, makanan serta minuman karena Allah seperti hal semacam ini dijelaskan dalam hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hanya Allah yang memberi taufik. Mudah-mudahan shalawat serta salam tercurah pada Nabi kita Muhammad, keluarga serta sahabatnya. ” (Fatwa Al Lajnah Ad Daimah no. 18647, 9 : 156)

Wallahu alam

Agar Kuat Berpuasa Tanpa Sahur

Makan sahur adalah kegiatan yang dikerjakan untuk memulai puasa. Walau hukumnya tak wajib, tetapi makan sahur begitu disarankan. Sebab asupan makanan yang dikonsumsi ketka sahur bakal jadi bekal daya keseharian sepanjang puasa. Dan yang paling penting dalam sahur ada rahmat Allah SWT.
Agar Kuat Berpuasa Tanpa Sahur

Namun kadang-kadang kita melewatkan makan sahur lantaran beragam alasan. Umpamanya lantaran ketiduran, terlambat bangun atau alasan yang lain. Terlebih untuk mereka yang repot saat malam harinya, mungkin melewatkan saat sahur lantaran tak pernah bangun. Selalu bagaimana puasanya? Apakah puasa yang dijalani bisa kuat tanpa makan sahur?

Bila sudah terlanjur tidak makan sahur, begini caranya agar kita bisa kuat menjalankan puasa, yaitu dengan :

Kuatkan niat

Niat yaitu awal dari semua perbuatan. Bila puasa diniati dengan kuat, maka puasa yang ditempuh akan lancar walau tak pernah makan sahur. Jangan sampai menjadikan alasan tidak untuk berpuasa saat Anda lupa sahur. Kuatkan niat dalam hati, ingat, puasa itu hukumnya wajib. Bila niat dalam hati sangatlah kuat untuk berpuasa, maka semua ragam godaan akan tidak jadi rintangan. Ingatlah gak ada orang yang mati karena puasa.

Mencari kesibukkan

Menyibukkan diri dapat juga jadi cara menahan lapar waktu puasa. Dari pada selalu memandang jam sembari menanti saat berbuka, lebih baik mencari aktivitas positif yang berguna untuk melupakan rasa lapar serta haus yang dihadapi. Anda dapat mengisi aktivitas menanti buka puasa dengan memasak, olahraga atau membersihkan rumah. Semakin lebih baik juga bila meluangkan saat untuk beribadan lain seperti mengaji.

Jangan sampai jalankan pekerjan berat dulu

Langkah supaya kuat puasa karena tidak makan sahur yakni dengan menunda pekerjaan berat terlebih dulu. Bila pekerjaan itu masih sangat mungkin untuk dikerjakan pada lain hari, lebih baik jangan sampai di kerjakan saat Anda tak makan sahur.

Ingat-ingat manfaatnya puasa

Khasiat puasa ramadhan yang demikian bernilai bisa Anda dapatkanbila menjalaninya satu bulan penuh. Karenanya, janganlah berpikiran bakal membatalkan puasa cuma lantaran tak pernah makan pada saat sahur. Tiap-tiap rasa lapar serta haus menimpa, tetaplah ingat akan manfaat puasa yang dapat diperoleh.

Bila satu waktu tak sempat makan sahur, silkan di coba cara-cara diatas Mudah-mudahan dapat berguna untuk Anda serta puasa yang ditempuh bisa berjalan lancar.

Inilah Ke Empat Tanda Apabila Malaikat Maut Datang Menjemput Serta Bakal Mencabut Nyawa

4 Tanda sebelum malaikat maut menjemputmu semestinya dapat menjadi bahan instropeksi untuk kita. Apa sajakah yang sudah kita kerjakan sepanjang hidup? Apakah banyak amal baik atau malah semakin banyak amal buruknya? Walau kita tidak paham kapan ajal bakal menjemput, namun kita mesti tetaplah menyiapkan diri menuju kehidupan yang hakiki.
Inilah Kke Empat Tanda Apabila Malaikat Maut Datang Menjemput Serta Bakal Mencabut Nyawa

Akan tetapi, ada banyak tanda yang dapat kita simak sebelum malaikat maut mencabut nyawa walau hal semacam ini tak terjadi pada setiap orang.

Imam Al Qurthubi mengungkap tanda tanda ini didalam kitab At Tadzkirah. Didalam buku itu disebutkan kalau malaikat maut pernah di tanya seorang nabi, bukankah malaikat maut mempunyai delegasi yang dapat disuruh mendahuluinya supaya manusia dapat bersiap-siap sebelumnya ia datang. Oleh karenanya, kita mesti siaga pada tanda-tanda orang mendekati sakaratul maut.

Lalu, malaikat maut menjawab kalau sesungguhnya ia memiliki banyak delegasi, seperti uban, penyakit atau masalah, beberapa hal yang menyedihkan, menurunnya pandangan serta pendengaran. Jika seorang sudah mengalami hal itu namun tak menyadarinya serta tak bertaubat maka waktu malaikat maut menghampirinya, ia bakal menyampaikan kalau sudah datang banyak delegasi sebagai tanda serta bakal ada delegasi yang paling akhir yaitu kehadiran malaikat maut.

Berikut ke empat tanda apabila malaikat maut datang menjemput serta bakal dicabut nyawanya.

1. Sakit
Sakit bisa berbentuk sakit fisik maupun sakit psikis. Mungkin saja, sakit yang disebut dalam soal ini yaitu sakit fisik di mana ada yang terganggu atau salah dengan kondisi biologis kita. Jika badan telah merasakan sakit yang kronis maupun kerap merasakan sakit, maka hal semacam itu dapat jadikan tanda yang riil kalau kematian makin dekat. Walau demikian, kita tak bisa menyerah dengan sakit itu lantaran masih ada peluang untuk kita pulih serta melakukan perbaikan diri.

2. Timbulnya uban
Uban yaitu rambut putih yang nampak pada orang telah lansia. Tetapi, saat ini, kita sudah dapat menjumpai rambut putih dalam umur yang masih muda. Satu diantara pemicunya lantaran permasalahan hidup yang makin berat serta dipikirkan dengan berat juga. Namun, uban lantaran keturunan juga bisa. Lepas dari semuanya, kita dapat menjadikan timbulnya uban jadi satu diantara tanda sebelumnya kematian datang.

3. Menurunnya penglihatan
Demikian halnya dengan penglihatan, fungsi penglihatan akan menyusut bersamaan menambahnya umur. Jika kita telah rasakan hal semacam ini, jadi hati-hatilah lantaran kematian bakal makin mendekat.

4. Berkurangnya pendengaran
Makin menambahnya umur jadi manfaat pendengaran bakal makin menyusut. Jika manfaatnya telah mulai menyusut maka menunjukkan bila kita telah berumur tua serta bakal hampiri kematian.

Berdasar pada ke empat tanda malaikat maut datang diatas, maka kita mesti besiap-siap hadapi kematian yang akan datang. Walau telah banyak orang yang wafat tanpa ada alami ke empat sinyal ini, namun kita dapat jadikan tanda tanda ini sebagai peringatan supaya kita siap menghadapi kematian.

AWAS PACARAN BIKIN HIDUP MAKIN SURAM !!

Kecintaan pada lawan jenis adalah fitrah yang ada pada tiap-tiap manusia yang sempurna. Berikut hikmah diciptakannya manusia dengan type yang tidak sama, berbentuk lelaki serta wanita.

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan pada apa-apa yang diingini, yakni : wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak serta sawah ladang. Itulah kesenangan hidup didunia, serta di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga) ”. (Q. S. Ali Imran : 14).
AWAS PACARAN BIKIN HIDUP MAKIN SURAM !!

Tetapi kecintaan pada lawan jenis, mesti ditempatkan pada tempatnya sesuai ketentuan syari’at. Bila tidak, jadi di sinilah manusia bakal hidup seperti binatang, bahkan juga lebih keji lagi. Langkah serta tips-nya yang syar’i, serta tumbuhkan cinta ini dalam rumah tangga lewat gerbang nikah.

Pembaca yang budiman, kecintaan pada lawan jenis berikut sebagai argumen dua anak manusia terperosok dalam perkara haram, hina serta keji dengan merajut jalinan, memadu kasih, mengukir cerita asmara serta berjanji setia sehidup serta semati, atau lebih akrab dimaksud dengan arti “pacaran”!!!

Betapa banyak harta yang terbuang karenanya, betapa banyak manusia menjadi gila karena ulahnya, betapa banyak kemaksiatan yang terjadi karena melakukannya, dan jiwapun melayang disebabkan olehnya.Namun sangat sedikit manusia yang mau mengambil pelajaran.

Lalu kenapa produk barat yang bermerek “pacaran” ini masih menjadi “virus” yang menjangkiti hampir semua kalangan, mulai dari Sekolah Dasar, SMP, SMA, sampai di bangku kuliahan. Mereka merasa malu, bila masih sendiri alias belum punya pacar.Semua ini disebabkan karena hawa nafsu yang sudah berkuasa pada diri seseorang, kurangnya perhatian orang tua, dan jauhnya mereka dari agama.

Berbagai macam dalih dan beribu merek alasan yang sering dilontarkan untuk menghalalkan produk haram ini.Yah, “alasanya mengikuti perkembangan zaman”, “cara untuk mencari dan memilih pasangan hidup, agar bisa saling mengenal karakter dan sifat masing-masing sebelum menjalani bahtera kehidupan rumah tangga”.Ini adalah jerat-jerat setan. Lalu sampai di mana kalian akan saling mengenal pasangan? Apakah sampai harus melanggar batasan-batasan Allah !!? Ini adalah pintu kebinasaan yang akan menghinakan dirimu.

Dalil Haramnya Pacaran

Allah -Azza wa Jalla- Yang Maha Penyayang kepada hamba-Nya telah menutup segala celah yang bisa membinasakan hamba-Nya, di antaranya adalah zina, dan segala pengantar menuju zina. Allah –Azza wa Jalla- berfirman:

“Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji.dan suatu jalan yang buruk”. (QS. Al-Isra’ : 32)

Allah telah melarang hamba-Nya untuk mendekati perzinaan, karena zina itu adalah suatu perbuatan yang keji.dan suatu jalan yang buruk. Maka segala hal yang bisa mengantarkan kepada bentuk perzinaan telah diharamkan pula oleh Allah.Sedangkanpacaran adalah sebesar-besar perkara yang bisa mengantarkan ke pintu perzinaan !!! Data dan realita telah membuktikan; tak perlu kita sebutkan satu-persatu kisah buruk dan menjijikkan, dua insan yang dimabuk asmara.

Jika Allah dalam ayat ini mengharamkan pengantar menuju zina (diantaranya pacaran), maka tentunya Allah mengharamkannya karena hal itu akan menimbulkan mafsadah (kerusakan) di atas permukaan bumi, seperti kerusakan nasab, harga diri, rumah tangga, dunia, dan akhirat.

Para Pembaca yang budiman, Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah menjelaskan firman Allah di atas, kenapa Allah mengharamkan pacaran? Jawabnya, berdasarkan hadits-hadits yang ada, bahwa pacaran mengandung beberapa perkara maksiat lainnya; satu dengan lainnya saling mengundang, seperti:

Memandang Lawan Jenis yang Bukan Mahram

Saling memandang antara satu dengan yang lainnya sudah menjadi perkara yang lumrah bagi dua insan yang dimabuk cinta. Sementara memandang lawan jenis bisa membangkitkan syahwat apalagi bila sang wanita berpakaian ketat yang menampakkan lekuk-lekuk tubuhnya. Oleh karena itu “bohong” bila seorang laki-laki tidak tergiur dengan penampilan wanita yang menampakkan lekuk-lekuk tubuhnya, apa lagi sang wanita tergila-gila kepadanya dan tiap hari berada di sisinya. Sebenarnya sang laki-laki bejat tinggal menunggu waktu dan kesempatan saja untuk bisa melampiaskan nafsu setannya. Setelah itu terjadilah apa yang terjadi… naudzu billahi min dzalik.

Oleh karena itu, hendaknya seorang muslim menjaga matanya dari memandang perkara-perkara yang diharamkan untuk dilihat. Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman,

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya (dari hal yang haram); yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka.Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”.Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya (dari yang haram)”. (QS. An-Nur: 30-31).

Jarir bin Abdillah -radhiyallahu ‘anhuma- berkata, “Aku bertanya kepada Rasulallahi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- tentang pandangan yang tiba-tiba (tanpa sengaja)? Maka beliau bersabda, “Palingkan pandanganmu”. [HR. Muslim (2159), Abu Dawud (2148), At-Tirmidziy (2776)]

Memandang wanita yang tidak halal untuk dipandang (bukan mahram), meskipun tanpa syahwat, maka ia adalah zina mata. Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

“Telah ditulis bagi setiap bani Adam bagiannya dari zina, pasti dia akan melakukannya, kedua mata zinanya adalah memandang, kedua telinga zinanya adalah mendengar, lidah (lisan) zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah memegang, kaki zinanya adalah melangkah, sementara qalbu berkeinginan dan berangan-angan, maka kemaluanlah yang membenarkan (merealisasikan) hal itu atau mendustakannya”. [HR. Al-Bukhoriy (5889) dari Ibnu Abbas, dan Muslim (2657) dari Abu Hurairah]

Saling Merayu, dan Menggoda dengan Suara Lembut

Lalu bagaimana lagi jika yang dilakukan bukan hanya sekedar memandang, tapi juga dibumbui dengan cumbu rayu, berbalut suara yang mengundang syahwat dan sejuta godaan dusta!! Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman,

“Maka janganlah kamu tunduk (bersuara lembut) dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik”.(QS. Al-Ahzab:32).

Al-Hafizh Ibnu Katsir-rahimahullah- berkata menafsirkan ayat ini, “Maknanya hal ini, seorang wanita berbicara (di balik tirai dan penghalang, -pent) dengan orang lain dengan ucapan yang di dalamnya tak terdapat kemerduan suara, yakni seorang wanita tidak berbicara dengan orang lain sebagaimana ia berbicara dengan suaminya (dengan penuh kelembutan)”. [Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-Karim (3/636)]

Jadi, seorang lelaki atau wanita terlarang untuk saling menggoda, merayu, dan bercumbu dengan ucapan-ucapan yang membuat salah satu lawan jenis tergoda, dan terbuai sehingga pada gilirannya membuka jalan menuju zina, baik itu zina kecil (seperti memandang, saling memikirkan, dan lainnya), maupun zina besar !!

Menemui Wanita Tanpa Mahram, dan Tanpa Pembatas

Sehari bagaikan sepekan, sepekan bagaikan sebulan, dan sebulan bagaikan setahun bila sepasang anak manusia yang sedang dimabuk cinta tidak bertemu.Ketika mereka bertemu, pastilah berduaan.Sang pria berusaha sebisa mungkin menemui si wanita, tanpa ada mahram, dan tanpa pembatas berupa tirai yang melindungi mereka dari pandangan syahwat. Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

“Hati-hatilah kalian dari masuk menemui wanita”.Seorang lelaki dari kalangan Ashar berkata, “Bagaimana pendapatmu dengan kerabat suami?” Maka Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, “Mereka adalah kematian (kebinasaan)”. [HR. Al-Bukhoriy (5232), Muslim (2172), dan At-Tirmidziy (1171)]

Berduaan antara Pria dan Wanita

Lebih para lagi, jika pria dan wanita yang berpacaran ini saling berduaan, karena setan sudah hampir berhasil menjerumuskan keduanya dalam zina.Makanya, kasus zinanya orang yang berpacaran, itu terjadi di saat mereka berduaan; saat mereka bebas mengungkap isi hatinya, dan syahwatnya yang bergejolak kepada lawan jenisnya.Sebab itu, kedua pasangan yang haram ini berusaha mencari tempat yang tersembunyi, dan jauh dari jangkauan manusia; ada yang pergi ke daerah wisata, tepi pantai; ada yang lebih elit lagi sewa hotel, villa, dan lainnya. Untuk apa? Agar bebas berduaan melampiaskan birahinya yang keji !!! Di lain sisi, sebagian wanita tak sadar jika ia akan dihinakan dengan perbuatan itu, karena hanya sekedar janji-janji muluk dan dusta. Sadarlah wahai kaum wanita, jika seorang lelaki yang mengungkapkan cintanya kepadamu, tanpa melalui pintu nikah, maka ketahuilah bahwa itu adalah “cinta palsu”, dan “janji dusta”

Seorang dilarang berduaan dengan lawan jenisnya yang bukan mahramnya, karena hal itu akan membuat setan lebih leluasa menggoda dan menjerumuskan seseorang dalam zina, dan pengantarnya. Rasulllah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

“Jangan sekali-sekali salah seorang di antara kalian (kaum pria) berduan dengan seorang wanita, karena setan adalah pihak ketiganya”.[HR. At-Tirmidziy (2165), dan Ahmad (114). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Al-Irwa’ (6/215)]

Memegang dan Menyentuh Pacar

Pacaran tidaklah lepas dari bersentuhan, entah dengan cara berjabat tangan, berboncengan di atas kendaraan, atau berpegangan, berpelukan, berciuman dan lainnya. Ketahuilah bahwa memegang dan menyentuh wanita yang bukan mahram kita adalah perbuatan yang diharamkan dalam agama kita. Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

“Andaikan kepala seseorang di cerca dengan jarum besi, itu lebih baik (ringan) baginya dibandingkan menyentuh seorang wanita yang tak halal baginya”. [HR. Ar-Ruyaniy dalam Al-Musnad (227/2), dan Ath-Thobroniy dalam Al-Kabir (486, & 487)]

Al-Allamah Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy-rahimahullah- berkata setelah menguatkan sanad hadits diatas dalam Ash-Shohihah (1/1/448), “Dalam hadits ini terdapat ancaman yang keras bagi orang yang menyentuh wanita yang tak halal baginya.Jadi, di dalamnya juga ada dalil yang menunjukkan haramnya berjabat tangan dengan para wanita (yang bukan mahram), karena berjabat tangan dicakup oleh kata “menyentuh”, tanpa syak.Perkara seperti ini telah menimpa kebanyakan kaum muslimin di zaman ini. (Namun sayang), di antara mereka ada yang berilmu andaikan ia ingkari dalam hatinya, maka masalahnya sedikit agak ringan. Cuman mereka ini berusaha menghalalkannya dengan berbagai jalan, dan takwil. Telah sampai suatu berita kepada kami bahwa ada seorang tokoh besar di Al-Azhar telah disaksikan oleh sebagian orang sedang berjabat tangan dengan para wanita !!Hanya kepada Allah tempat kita mengadu dari keterasingan Islam”.

Nasihat bagi Orang Tua

Suatu perkara yang membuat kita sedih, orang tua tidak peduli lagi dengan anak gadisnya ketika keluar rumah bersama laki-laki yang bukan mahramnya. Keluar dengan berpakaian serba ketat, kemudian dibonceng,.Tidak tahu kemana anak gadisnya dibawa pergi.Lalu terjadilah apa yang terjadi.Si gadis terkadang pulang larut malam, namun orang tua hanya membiarkan kemungkaran terjadi di dalam rumah tangga, dan keluarganya.Inilah Dayyuts yang diharamkan baginya jannah (surga). Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

“Ada tiga golongan yang sungguh Allah haramkan baginya surga: pecandu khomer, orang yang durhaka (kepada orang tuanya), dan dayyuts yang membiarkan perbuatan keji dalam keluarganya”.[HR. Ahmad dalam Al-Musnad (2/69/no. 5372). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami’ (3047)]

Jika kita melirik ke arah yang lain, ternyata ada juga wanita yang berbusana muslimah dan pria memakai gamis jatuh ke dalam jerat setan ini. Mereka sebut dengan istilah “pacaran islami”.Tentunya ini justru lebih berbahaya karena jalan menuju perzinaan yang telah dibungkus dengan label “islami”.Padahal sungguh agama Islam yang suci ini telah berlepas diri dari perbuatan ini.

Pacaran yang merupakan pos dan gerbang menuju zina ini, jika dianggap “islami” -padahal itu haram berdasarkan ayat yang lalu-, maka kami khawatirkan akan muncul generasi yang akan menghalalkan perkara-perkara haram lainnya, karena dipoles dan dihiasi dengan label “islami” sehingga mereka nantinya akan membuat istilah “musik islami”, “khomer islami”, “mencuri islami”, “riba islami”, “judi islami”, dan lain sebagainya. Padahal musik, khomer, mencuri, riba, dan judi adalah perkara-perkara haram, namun dihalalkan oleh mereka hanya karena permaiman kata yang licik.Na’udzu billah min dzalik !!

Pada akhirnya kami nasihatkan pada golongan yang dilanda asmara supaya selekasnya bertaubat pada Allah sebelumnya nyawa meregang. Hentikan pacaran yang bakal menjatuhkan kalian dalam jurang kenistaan. Jaga kehormatan kalian yang suci dengan tameng ketaqwaan pada Allah -Ta’ala-.

Maraknya Musik, Bagaimanakah Hukumnya Menurut Islam?

Maraknya Musik, Bagaimanakah Hukumnya Menurut Islam?. Ramainya konser musik serta festival lagu di negri kita dan nyanyian yang semakin digemari, bukan hanya saja oleh beberapa remaja, namun juga disukai serta di nikmati oleh beberapa orangtua, bahkan juga anak-anak, baik melalui tv, radio, Hand phone, serta media-media elektronik yang lain.
Maraknya Musik, Bagaimanakah Hukumnya Menurut Islam?

Kami harap supaya golongan Muslimin tahu dengan jelas bagaimana sesungguhnya kedudukan musik yang seolah tak pernah sepi serta tidak terpisahkan dalam kehidupan mereka.

Pandangan al-Qur’an Dan as- Sunnah
Allah Subhanahu wata’ala berfirman, artinya, “Dan di antara manusia (ada) yang memper-gunakan lahwul hadits untuk menyesat-kan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu bahan olok-olokan.” (QS. Luqman: 6).

Sebagian besar mufassir berko-mentar, yang dimaksud dengan lahwul hadits dalam ayat tersebut adalah nyanyian. Hasan al-Basri berkata, “Ayat itu turun dalam masalah musik dan lagu.” Allah Subhanahu wata’ala berfirman kepada setan, artinya, “Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan suaramu.” Maksudnya dengan lagu (nyanyian) dan musik.

RasulullahShallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Kelak akan ada dari umatku beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutera, minum-an keras dan musik.” (HR. al-Bukhari dan Abu Daud)
Dengan kata lain, akan datang suatu masa, ketika beberapa golongan dari umat Islam mempercayai bahwa zina, memakai sutera asli, minum-minuman keras, dan musik hukumnya halal, padahal semua itu adalah haram.

Adapun yang dimaksud dengan musik di sini adalah segala sesuatu yang menghasilkan bunyi dan suara yang indah serta menyenangkan. Seperti kecapi, gendang, rebana, seruling, dan berbagai alat musik modern yang kini sangat banyak dan beragam. Bahkan termasuk di dalamnya jaros (lonceng, bel, klentengan).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Lonceng adalah nyanyian setan.” (HR. Muslim)
Di masa dahulu orang-orang hanya mengalungkan klentengan pada leher binatang. Hadits di atas menunjukkan betapa dibencinya suara bel tersebut. Penggunaan lonceng juga berarti menyerupai orang-orang nasrani. Lonceng bagi mereka merupakan suatu yang prinsip dalam aktivitas gereja.
Imam Syafi’i dalam kitabnya al- Qadha’ berkata, “Nyanyian adalah kesia-siaan yang dibenci, bahkan menyerupai perkara batil. Barangsiapa memperba-nyak nyanyian, maka dia adalah orang dungu, syahadat (kesaksiannya) tidak dapat diterima.”

Nyanyian di Masa Kini:
Kebanyakan lagu dan musik pada saat ini manggung di berbagai pesta juga dalam tayangan televisi dan siaran radio. Mayoritas sya’ir-sya’irnya berisi tentang asmara, kecantikan, ketampanan dan hal lain yang lebih banyak mengarah kepada eksploitasi biologis, sehingga mem-bangkitkan nafsu birahi, terutama bagi kawula muda dan remaja. Selanjutnya hal itu membuat mereka lupa segala-galanya, sehingga terjadilah kemaksiat-an, zina dan dekadensi moral lainnya.

Tak diragukan lagi hura-hura musik baik dari dalam atau manca negara sangat merusak dan banyak menimbulkan bencana besar bagi generasi muda. Lihatlah betapa setiap ada pesta kolosal musik, selalu ada saja yang menjadi korban. Baik berupa mobil yang hancur, kehilangan uang atau barang lainnya, cacat fisik hingga korban meninggal dunia. Orang-orang berjejal dan mau saja membayar meski dengan harga tiket yang tinggi. Bagi yang tak memiliki uang terpaksa mencari berbagai cara yang penting bisa masuk stadion. Akhirnya merusak pagar, memanjat dinding atau merusak barang lainnya demi bisa menyaksikan pertunjukan musik kolosal tersebut.

Jika pentas dimulai, seketika para penonton hanyut bersama alunan musik. Ada yang menghentak, menjerit histeris bahkan pingsan karena mabuk musik.

Para pemuda itu mencintai para penyanyi idola mereka melebihi kecintaan mereka kepada Allah Subhanahu wata’ala yang menciptakannya. Ini adalah fitnah yang amat besar.

Tersebutlah pada saat terjadi perang antara Bangsa Arab dengan Yahudi tahun 1967, para pembakar semangat menyeru kepada para pejuang, “Maju terus, bersama kalian biduan fulan dan biduanita fulanah … “, kemudian mereka menderita kekalahan di tangan para Yahudi yang pendosa.

Seharusnya diserukan, “Maju terus, Allah Subhanahu wata’ala bersama kalian. Allah Subhanahu wata’ala akan menolong kalian.” Dalam peperangan itu pula, salah seorang biduanita memaklumkan, jika mereka menang, maka ia akan menyelenggarakan pentas bulanannya di Tel Aviv, ibukota Israel, padahal biasanya digelar di Mesir. Sebaliknya yang dilakukan orang-orang Yahudi setelah merperoleh kemenangan adalah mereka bersimpuh di Ha’ith Mabka (dinding ratapan) sebagai tanda syukurnya kepada Tuhan mereka.

Semua nyanyian itu hampir sama, bahkan hingga nyanyian-nyanyian yang bernafaskan Islam sekalipun, tidak akan lepas dari kemungkaran.Bahkan di antara sya’ir lagunya ada yang berbunyi,
“Dan besok akan dikatakan, setiap nabi berada pada kedudukannya …

Ya Muhammad inilah Arsy, terima-lah.”
Bait terakhir dari sya’ir tersebut merupakan suatu kebohongan besar terhadap Allah Subhanahu wata’ala dan RasulNya. Tidak sesuai dengan kenyataan dan termasuk salah satu bentuk pengultusan terhadap diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Hal semacam itu dilarang.

Kiat Mengobati virus nyanyian dan musik.
Beberapa langkah yang dianjurkan, diantaranya:
1. Jangan mendengarkan musik, baik dari radio, televisi atau lainnya. Apalagi jika syair-syairnya tak sesuai dengan akhlak Islam dan diiringi dengan musik.

Di antara lawan paling jitu untuk menangkal ketergantungan kepada musik adalah dengan selalu mengingat Allah Subhanahu wata’ala dan membaca al-Qur’an, terutama surat Al Baqarah. Dalam hal ini Allah Subhanahu wata’ala telah berfirman, artinya, “Hai manusia sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu dan sebagai penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Yunus: 57)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Sesungguhnya setan itu lari dari rumah yang di dalamnya surat Al Baqarah dibaca.” (HR. Muslim)

2. Membaca sirah Shallallahu ‘alaihi wasallam (riwayat hidup Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam). Demikian pula sejarah hidup para sahabat beliau.

Nyanyian yang Diperbolehkan
Ada beberapa nyanyian yang diperbolehkan, yaitu:

1. Menyanyi pada hari raya. Hal itu berdasarkan hadits A’isyah,”Suatu ketika Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke bilik ‘Aisyah, sedang di sisinya ada dua orang hamba sahaya wanita yang masing-masing memukul rebana (dalam riwayat lain ia berkata, “… dan di sisi saya terdapat dua orang hamba sahaya yang sedang menyanyi.”), lalu Abu Bakar mencegah keduanya. Tetapi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam justru bersabda, “Biarkanlah mereka karena sesung-guhnya masing-masing kaum memiliki hari raya, sedangkan hari raya kita adalah pada hari ini.” (HR. al-Bukhari).

2. Menyanyi dengan rebana ketika berlangsung pesta pernikahan, untuk menyemarakkan suasana sekaligus memperluas kabar pernikahannya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Pembeda antara yang halal dengan yang haram adalah memukul rebana dan suara (lagu) pada saat pernikahan.” (Hadits shahih riwayat Ahmad). Yang dimaksud di sini adalah khusus untuk kaum wanita.

3. Nasyid Islami (nyanyian Islami tanpa diiringi dengan musik) yang disenandungkan saat bekerja sehingga bisa lebih membangkitkan semangat, terutama jika di dalamnya terdapat do’a. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyenandungkan sya’ir Ibnu Rawahah dan menyemangati para sahabat saat menggali parit. Beliau bersenandung, “Ya Allah tiada kehidupan kecuali kehidupan akhirat, maka ampunilah kaum Anshar dan Muhajirin.” Seketika kaum Muhajirin dan Anshar menyambutnya dengan senandung lain, “Kita telah membai’at Muhammad, kita selamanya selalu dalam jihad.”

Ketika menggali tanah bersama para sahabatnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersenandung dengan sya’ir Ibnu Rawahah yang lain,

“Demi Allah, jika bukan karena Allah, tentu kita tidak mendapat petunjuk, tidak pula kita bersedekah, tidak pula mengerjakan shalat.

Maka turunkanlah ketenangan kepada kami, mantapkan langkah dan pendirian kami jika bertemu (musuh)

Orang-orang musyrik telah men durhakai kami, jika mereka mengingin-kan fitnah, maka kami menolaknya.”

Dengan suara koor dan tinggi mereka balas bersenandung, “Kami menolaknya,…kami menolaknya.” (Muttafaq ‘Alaih)

4. Nyanyian yang mengandung pengesaan Allah Subhanahu wata’ala, kecintaan kepada Rasululah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan menyebutkan sifat-sifat beliau yang terpuji; atau mengandung anjuran berjihad, teguh pendirian dan memperbaiki akhlak; atau seruan kepada saling mencintai, tolong- menolong di antara sesama; atau menyebutkan beberapa kebaikan Islam, berbagai prinsipnya serta hal-hal lain yang bermanfaat buat masyarakat Islam, baik dalam agama atau akhlak mereka.

Di antara berbagai alat musik yang diperbolehkan hanyalah rebana. Itupun penggunaannya terbatas hanya saat pesta pernikahan dan khusus bagi para wanita. Kaum laki-laki sama sekali tidak dibolehkan memakainya. Sebab Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memakainya. Demikian pula halnya dengan para sahabat beliau radhiallahu ‘anhum ajma’in.

Orang-orang Sufi memperbolehkan rebana, bahkan mereka berpendapat bahwa menabuh rebana ketika dzikir hukumnya sunnat, padahal ia adalah bid’ah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan, karena sesungguhnya setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah. dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Turmudzi, beliau berkata, “Hadits hasan sha-hih.”).(Tim Redaksi an-Nur)

Sumber: Rasa’ilut Taujihat Al Islamiyah, 1/ 514 – 516.
Oleh: Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu

Oh Ke Empat Orang Istriku

SUATU saat, ada seseorang pedagang kaya yang memiliki empat orang isteri. Dia menyukai isteri yang ke empat serta memberi harta serta kesenangan yang banyak. Sebab, isteri ke empat yaitu yang paling cantik diantara kesemua isterinya. Jadi, tak heran lelaki ini kerap memberi yang paling baik untuk isteri keempatnya itu.

Oh Ke Empat Orang Isttriku

Pedagang itu juga menyukai isterinya yang ketiga. Dia begitu bangga dengan isterinya ini, serta kerap berupaya untuk mengenalkan isteri ketiganya ini pada semuanya rekannya. Tetapi dia juga senantiasa bimbang bila isterinya ini bakal lari dengan lelaki yang lain.

Begitu halnya isterinya yang ke-2. Dia juga begitu menyenanginya. Dia yaitu seseorang isteri yang sabar serta penuh pengertian. Bila-bila masa pun bila pedagang ini memperoleh permasalahan, dia senantiasa memohon pandangan isterinya yang ke-2 ini. Dialah tempat tergantung. Dia senantiasa membantu serta mengikuti suaminya lewat bebrapa masa yang sulit

Sama seperti dengan isterinya yang pertama. Dia yaitu pasangan yang begitu setia. Dia kerap membawa kebaikan untuk kehidupan keluarga ini. Dialah yang menjaga serta mengatur semuanya kekayaan serta usaha si suami. Walau demikian si pedagang tak demikian mencintainya. Meskipun isteri pertamanya ini demikian sayang padanya tetapi, pedagang ini tak demikian memperdulikannya.

Suatu ketika, si pedagang sakit. Kemudian dia menyedari mungkin masa untuknya hidup tinggal tidak lama lagi. Dia mula merenungi semua kehidupan indahnya, dan berkata dalam hati, “Saat ini, aku punya empat orang isteri. Namun, apabila aku meninggal, aku akan sendiri. Betapa menyedihkan jika aku harus hidup sendiri.”

Lalu dia meminta semua isterinya datang dan kemudian mulai bertanya pada isteri keempatnya, “Kaulah yang paling kucintai, kuberikan kau gaun dan perhiasan yang indah. Nah sekarang, aku akan mati, mahukah kau mendampingiku dan menemaniku?” Isteri keempatnya terdiam. “Tentu saja tidak!” Jawab isterinya yang keempat, dan pergi begitu sahaja tanpa berkata-kata lagi. Jawapan itu sangat menyakitkan hati seakan-akan ada pisau yang terhunus dan menghiris-hiris hatinya.

Pedagang yang sedih itu lalu bertanya kepada isteri ketiganya, “Aku pun mencintaimu sepenuh hati, dan saat ini, hidupku akan berakhir. Mahukah kau ikut denganku, dan menemani akhir hayatku?” Isteri ketiganya menjawab, “Hidup begitu indah di sini. Aku akan menikah lagi jika kau mati“. Pedagang begitu terpukul dengan jawapan isteri ketiganya itu.

Lalu, dia bertanya kepada isteri keduanya, “Aku selalu berpaling padamu setiap kali mendapat masalah. Dan kau selalu mahu membantuku. Kini, aku perlu sekali pertolonganmu. Kalau aku mati, mahukah kau ikut dan mendampingiku?” Si isteri kedua menjawab perlahan, “Maafkan aku…aku tak mampu menolongmu kali ini. Aku hanya boleh menghantarmu ke liang kubur saja. Nanti, akan kubuatkan makam yang indah buatmu.”

Jawapan itu seperti kilat yang menyambar. Si pedagang kini berasa putus asa. Tiba-tiba terdengar satu suara, “Aku akan tinggal denganmu. Aku akan ikut ke manapun kau pergi. Aku, tak akan meninggalkanmu, aku akan setia bersamamu.”

Si pedagang lalu menoleh ke arah suara itu dan mendapati isteri pertamanya yang berkata begitu. Isteri pertamanya tampak begitu kurus. Badannya seperti orang yang kelaparan. Berasa menyesal, si pedagang lalu berguman, “Kalau saja aku mampu melayanmu lebih baik pada saat aku mampu, tak akan kubiarkan kau seperti ini isteriku.”

Teman, sesungguhnya kita punya empat orang isteri dalam hidup ini ;

ISTRI KEEMPAT

adalah tubuh kita. Seberapa banyak waktu dan belanja yang kita keluarkan untuk tubuh kita supaya tampak indah dan gagah, semuanya akan hilang. Ia akan pergi segera apabila kita meninggal. Tak ada keindahan dan kegagahan yang tersisa saat kita menghadapNYA.

ISTRI KETIGA

adalah status sosial dan kekayaan kita. Saat kita meninggal, semuanya akan pergi kepada yang lain. Mereka akan berpindah dan melupakan kita yang pernah memilikinya.

ISTERI KEDUA

pula adalah kerabat dan teman-teman. Seberapa pun dekat hubungan kita dengan mereka, mereka tak akan mampu bersama kita selamanya. Hanya sampai kuburlah mereka akan menemani kita.

DAN SESUNGGUHNYA ISTERI PERTAMA

adalah jiwa dan amal kita. Mungkin kita sering mengabaikan dan melupakannya demi kekayaan dan kesenangan peribadi. Namun, sebenarnya, hanya jiwa dan amal kita sajalah yang mampu untuk terus setia dan mendampingi kemanapun kita melangkah. Hanya amal yang mampu menolong kita diakhirat kelak.

Jadi, selagi mampu, perlakukanlah jiwa dan amal kita dengan bijak. Jangan sampai kita menyesal kemudian hari!

Video : Membahas Tentang Hutang dan Solusinya

Video : Membahas Tentang Hutang dan Solusinya. Jangan bernafsu untuk berhutang, semuanya hidupnya hutang, akhirnya dia jadi tukaang hutang. Dalam islam hal itu tidak diperbolehkan. Sebenarnya Islam memperbolehkan untuk berhutang, hal ini berdasarkan alquran, karena ayat yang terpanjang surat Al baqorah membahas tentang hutang membolehkan untuk berhutang, namun jangan turutkan hawa nafsu untuk berhutang.

Video : Membahas Tentang Hutang dan Solusinya


Islam dengan lengkap membahas tentang hukum hutang. Jangan sampai semua hutang. Sepeda hutang, perabotan rumah tangga hutang, pakaian hutang, semuanya hutang.Itu yang tidak diperbolehkan. Bagaiman jika yang punya hutang meninggal dunia, meninggalkan huang buat istri dan anaknya. Intinya bila mampu dia beli, jika tidak mampu ya sabar.

Untuk lebih jelasnya silakan dilihat video yang membahas tentang hutang dan solusinya bersama Ustadz Yazid Abdul Qodir Jawas berikut ini :


Permasalah Utang Piutang Menurut Islam

Persoalan serta kesusahan ekonomi seringkali bikin seorang terasa buntu serta kehilangan arah untuk menemukan jalan keluar. Sampai pada hingga di titik kesusahan materi yang teramat sangat, pada akhirnya banyak di antara kita yang memilih untuk berutang pada sesama. Tak salah memang.
Permasalah Utang Piutang Menurut Islam

Berhutang diperbolehkkan dalam Islam, bahkan juga lantaran tidak menginginkan ada orang yang dirugikan lantaran praktek hutang piutang, Allah merumuskan adab-adab berutang yang tertuang dalam penghujung surah al-Baqarah ayat 282 kalau tiap-tiap praktek hutang piutang mesti dicatat serta disaksikan.

Pencatatan dan persaksian atas transaksi utang piutang dimaksudkan untuk menghindari kekeliruan dan permusuhan yang akan sangat mungkin terjadi. Dengan pencatatan dan persaksian pula, pengutang ingat kembali jumlah utang yang harus ia bayar jika suatu waktu ia lupa. Namun bagaimana, jika yang berutang tidak mampu atau bahkan fenomena yang sering terjadi adalah justeru yang berhutang lebih kasar dan kejam daripada si pemberi hutang?

Karenanya, diperlukan kelapangan hati dan jiwa ketika kita memutuskan untuk memberikan pinjaman kepada orang lain. Pemberi utang juga harus mengetahui betul apakah yang diutangi betul-betul belum mampu membayar, pura-pura tidak mampu atau bahkan tak ada niat untuk melunasi utangnya. Terkait menghadapi orang yang tidak mampu membayar, maka Alquran menganjurkan kita untuk memberi kelapangan.

“Dan jika dia (penghutang) memiliki kesukaran maka berilah penangguhan sampai waktu lapang (mampu membayarnya), dan apabila kalian menyedekahkannya maka itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui,” (Qs Al-Baqarah: 280)

Begitu santunnya anjuran Alquran dalam memberikan pedoman utang-piutang. Selain si pemberi utang dianjurkan untuk memberikan kelapangan (maysarah—kelonggaran waktu atau kesempatan untuk membayar), pemberi hutang juga harus siap jika pada akhirnya harus menyedekahkan uang yang dipinjamnya ketika yang berhutang, akhirnya tidak sanggup membayarnya.

Pertanyaannya; sudah sanggupkah kita mengikuti tuntunan Alquran? Andai saja kita memiliki uang 10 juta lalu dipinjamkan kepada 10 orang dan kesemuanya itu tidak mampu membayar utangnya, mampukah kita ikhlas?

Ketika Hudzaifah dan Abu Mas’ud ra sedang berkumpul, Hudzaifah ra berkata, “Ada seorang laki-laki yang meninggal dan menemui Tuhannya, maka Tuhannya berkata kepadanya, “Apa yang telah kamu perbuat?” Dia menjawab, “Aku belum pernah berbuat kebaikan, melainkan dahulu aku adalah seseorang yang memiliki harta benda. Dengan harta yang kupunya itulah aku biasa memberikan pinjaman kepada orang yang membutuhkan, lalu aku sering memberikan kemudahan dalam pembayaran. Apabila seseorang tidak mampu membayarnya, maka aku membebaskan hutang tersebut,” Maka Allah Swt berfirman, “Berilah kelapangan kepadanya,” Abu Mas’ud berkata, seperti itulah aku mendengar Rasulullah Saw bersabda,” (HR Muslim, Shahih Muslim, Juz 3, No Hadits 1560)

Demikianlah, tidak ada satu perbuatanpun yang luput dari penjagaan Allah. Berapapun nominal yang telah kita keluarkan (pinjamkan) dengan ikhlas, semua itu pasti akan terbalas. Cukup balasan di akhirat sajalah segala amal kebaikan orang-orang baik itu diberikan.

Allahu a’lam (republika.co.id)

Resep Shalat Khusyuk dari Imam Ghazali

Khusyuk dalam shalat adalah ukuran serta sinyal kekhusyukan hati. Bagaimana khusyuk dihadirkan? Imam Ghazali tawarkan resep tersebut. Lahiriah perintah, kata Al-Ghazali, yaitu wajib, sedangkan lalai yaitu lawan ingat. Yang lalai dalam seluruh shalatnya, bagaimana mungkin dia dapat membangun shalat untuk mengingat-Nya?
Resep Shalat Khusyuk dari Imam Ghazali

Hadirnya hati yaitu ruh shalat. Minimal waktu mulai takbiratul ihram. Kurang dari ini yaitu kebinasaan. Makin bertambah hadirnya hati, makin bertambah juga ruh itu ada pada bebrapa bagian shalat.

Berapa banyak orang hidup tapi tidak punya daya gerak hingga seperti mayit. Demikian pula orang yang lalai dalam seluruh pelaksanan shalat kecuali pada waktu takbiratul ihram. Seperti orang hidup yang tidak punya daya gerak sama sekali. Ketahuilah, kata Al-Ghazali, makna batin memiliki banyak ungkapan tetapi seluruhnya terangkum dalam enam kalimat. Yaitu: kehadiran hati, tafahhum, takzim, haibah, raja'da haya'. Kehadiran hati ialah mengosongkan hati dari hal-hal yang tidak perlu hingga dia senantiasa sadar, tidak berpikiran liar.

Tafahhum adalah paham terhadap makna. Takzim itu rasa hormat. Haibah adalah rasa takut yang bersumber dari rasa hormat. Raja' adalah pengharapan dan haya adalah rasa malu.

Faktor penyebab kehadiran hati adalah himmah atau perhatian utama. Tafahhum berasal dari kebiasan berpikir untuk mengetahui makna. Takzim lahir dari dua makrifat (terhadap kemuliaan dan keagungan Allah dan terhadap kehinaan dan kefanaan dirinya). Haibah datang dari makrifat akan kekuasaan Allah, hukuman-Nya, pengaruh kehendak-Nya.

Penyebab timbulnya raja' adalah kelembutan Allah, kedermawanan-Nya, keluasaan nikmat-Nya, keindahan ciptaan-Nya, dan pengetahuan akan kebenaran janji-Nya. Sedang haya' muncul melalui perasaan serbakurang sempurna dalam beribadah dan pengetahuannya akan ketidakmampuan menunaikan hak-hak Allah.

Berdasarkan itu, manusia terbagi menjadi tiga kelompok. Pertama, orang lalai yang mendirikan shalat, tetapi hatinya tidak hadir sama sekali. Orang yang mendirikan shalat dengan hati tak pernah lalai sama sekali. Ketiga orang lalai yang tidak mendirikan shalat.

Yang terbaik adalah tipe kedua. Dia tidak pernah lalai dalam shalat dan selalu menghidupkan hatinya. Dia bisa sangat konsentrasi sehingga tidak merasakan apa yang tengah terjadi di sekelilingnya. Bahkan sebagian orang wajahnya pucat dan dadanya berguncang karena takut. Ini tak mustahil dicapai manusia.

Apalagi banyak orang mengalami hal serupa karena takut pada raja dunia. Jika kita termasuk orang yang menginginkan akhirat, hendaknya tidak melalaikan berbagai peringatan yang terdapat dalam syarat-syarat dan rukun-rukun shalat.

Syarat-syarat yang mendahului shalat adalah azan, bersuci, menutup aurat, menghadap kiblat, berdiri tegak lurus dan niat. Ketika mendengar seruan muazin hadirkanlah dalam hati gambaran dahsyatnya seruan hari kiamat dan bersegeralah dengan lahir dan batin untuk segera memenuhinya.

Orang-orang yang bersegera memenuhi seruan ini adalah orang-orang yang dipangil dengan penuh lemah lembut pada hari 'pergelaran akbar'. Arahkan hati kepada seruan ini.

''Jika kita bisa mendapatinya dengan penuh kegembiraan, kesenangan, selalu berkeinginan untuk memulainya, maka ketahuilah rasa khusyuk akan datang kepadamu,'' kata Said Hawwa dalam buku Tazkiyatun Nafs/ (Menyucikan Jiwa) (republika.co.id)

Nasihat Rasulullah SAW untuk Wanita

Diantara bukti kecintaan Nabi Muhammad SAW pada kaum hawa yaitu nasehat yang senantiasa di sampaikan pada umat Islam supaya melindungi serta menghormatinya. Sebab wanita adalah makhluk yang unik, tidak bisa diperlakukan dengan kasar serta tak dapat juga dibiarkan (HR Bukhari).
Nasihat Rasulullah SAW untuk Wanita

Nabi SAW pernah menasihati dan memerintahkan kaum wanita agar bertakwa kepada Allah, menaati suami, dan banyak bersedekah. Nabi SAW bersabda, "Sungguh di antara kalian ada orang-orang yang masuk surga (beliau sambil merapatkan jari-jari tangannya) dan sebagian besar kalian akan menjadi bahan bakar api neraka (lalu beliau membuka jari-jarinya). Seorang wanita bertanya, ‘Mengapa, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Karena kalian banyak melaknat, mengingkari kebaikan suami, dan menunda-nunda kebaikan'." (HR Ibnu Hibban).

Dari hadis di atas, ada tiga nasihat Nabi SAW yang diperuntukkan khusus untuk kaum wanita sebagai bekal masuk surga. Jika diamalkan maka akan memudahkan kaum wanita meraih surga, yaitu bertakwa kepada Allah, taat kepada suami, dan banyak sedekah.

Sebaliknya, jika seorang wanita melakukan tiga hal berikut ini maka akan menjadi orang yang celaka (sebagai penghuni neraka). Pertama, wanita yang suka melaknat. Sebagian wanita begitu mudah melaknat orang yang ia benci, termasuk yang sedang ada masalah dengannya.

Sangat tidak patut jika seseorang yang mengaku mukmin namun lisannya terlalu mudah untuk melaknat. Rasulullah SAW bersabda, “Bukanlah seorang mukmin itu seorang yang suka mencela, tidak pula seorang yang suka melaknat, bukan seorang yang keji dan kotor ucapannya.” (HR Bukhari).

Kedua, wanita yang suka mengingkari kebaikan suami. “Tidaklah seorang istri yang menyakiti suaminya di dunia, melainkan istrinya (di akhirat kelak): bidadari yang menjadi pasangan suaminya (berkata): “Jangan engkau menyakitinya, kelak kamu dimurkai Allah, seorang suami bagimu hanyalah seorang tamu yang bisa segera berpisah dengan kamu menuju kami.” (HR Tirmidzi).

Ketiga, wanita yang suka menunda-nunda kebaikan. Salah satu hal yang menjadikan wanita suka menunda kebaikan itu adalah terlalu larut dalam perasaan dan emosi. Hal ini pernah terjadi pada masa Nabi SAW. (HR Bukhari dan Muslim).

Karena itu, ingat akan nasihat Nabi SAW untuk segera melaksanakan amal saleh sebelum datang tujuh hal yang menghancurkan, yakni; kefakiran yang melupakan, kekayaan yang menyesatkan, sakit yang merusakkan, ketuaan yang melemahkan, kematian yang mendadak, Dajjal yang merupakan seburuk-buruk hal ghaib yang akan datang, dan hari kiamat (HR Tirmidzi).

Semoga Allah SWT membimbing kita para wanita agar dapat menjalankan tiga nasihat Nabi SAW sebagai bekal masuk surga, dan meninggalkan tiga hal larangan agar dapat terhindar dari neraka. Aamin. (republika.co.id)

Doa Rasulullah Ketika Mendapat Musibah

" Tentu kami bakal menguji kalian dengan sesuatu ketakutan serta kelaparan dan kekurangan harta, jiwa serta buah. Dan berilah kabar gembira pada orang-orang yang sabar. " (QS Al Baqarah 2 : 155). Dalam kehidupan ini seorang akan tidak lepas dari kondisi suka serta sedih. Suka apabila memperoleh karunia nikmat serta sulit apabila tertimpa musibah. Permasalahannya, bagaimana kita bisa kuasai diri ketika kita dihadapkan satu musibah.
Doa Rasulullah Ketika Mendapat Musibah

Datangnya musibah itu satu keniscayaan tak dapat dihindari. Seperti dalam ayat di atas, ada beberapa macam musibah. Mulai rasa takut lantaran ancaman pihak lain atau lantaran kelaparan lantaran susahnya mendapatkan bahan pokok makanan, hingga pada kehilangan harta, jiwa serta beragam kebutuhan duniawi.

Allah SWT mengajarkan pada golongan beriman jika terkena musibah supaya memperbanyak kesabaran serta shalat (QS Al Baqarah 2 : 153) yakni tetaplah sabar menjalankan perintah Allah SWT, sabar dalam meninggalkan larangan Allah SWT, serta sabar dalam menerima takdir serta ketetapan Allah SWT. Nabi SAW mencontohkan pada kita apabila ada kesusahan atau musibah sebaiknya kita sabar serta shalat. Rasulullah SAW jika ada kesusahan beliau shalat (HR Abu Dawud).

Beliau juga mengajarkan umat Islam bila terkena musibah supaya berdoa pada Allah SWT seraya berkata, " Ya Allah SWT, berilah pahala atas musibah yang menimpaku serta ubahlah dengan yang lebih baik daripadanya ", dengan begitu, " niscaya Allah SWT akan menggantikannya yang lebih baik ". (HR Ahmad).

Satu kali Ummu Salamah tertimpa musibah dengan kematian suaminya tercinta Abu Salamah. Waktu itu Ummu Salamah teringat pesan Nabi SAW supaya berdoa` apabila tertimpa musibah. Dia mengucapkan doa` itu : " Ya Allah SWT, berilah pahala atas musibah yang menimpaku serta ubahlah dengan yang lebih baik daripadanya ". Selain itu Ummu Salamah percaya kalau sebagaimana Rasulullah SAW berkata bakal diganti dengan yang lebih baik.

Namun Ummu Salamah bertanya-tanya, " Siapakah yang lebih baik dari suamiku Abu Salamah? " Nyatanya setelah masa iddah-nya habis, Rasulullah SAW meminangnya. Jadi Ummu Salamah makin meyakini kalau Allah SWT benar-benar sudah menggantinya dengan yang lebih baik yakni Rasulullah SAW. Makin seseorang kuat imannya, ujian serta musibah makin banyak.

Umat muslim di ajarkan Allah SWT supaya bila terkena musibah selekasnya mengatakan inna lillahi wa inna ilaihi rajiun (kita punya Allah serta bakal kembali pada Allah). Beberapa ulama salaf berkata : " Semua musibah yang menimpa diri kita, pada hakekatnya ringan, sepanjang musibah itu tak menyangkut keutuhan agama kita ". (republika.co.id)

Inilah Alasan Kenapa Masih Malas Tahajud

Mudah-mudahan dengan mengetahui alasan kenapa masih malas Tahajud, tergeraklah kita untuk menjaga amalan mulia ini. Sebab, sungguh tak ada kemuliaan seorang hamba terkecuali lantaran keistiqamahannya menjaga shalat Tahajud, “Maa syarafal mu’min illa bit tahajjud. ”

Inilah Alasan Kenapa Masih Malas Tahajud

Serta semoga juga dengan mengenalinya kita selekasnya muhasabah diri lantaran sungguh dunia terasa surga sebelumnya surga untuk hamba Allah yang sudah merasakan indahnya, nikmatnya, bahagianya shalat malam.

Pertama, Dho'ful iimaani, lemah iman. Kalau kuat iman, pasti ia sangat cinta, rindu, dan sangat bahagia menghadap-Nya di penghujung malam. "Sesungguhnya bangun tengah malam lebih tepat untuk khusyuk, dan bacaan kala itu sungguh sangat berkesan mendalam," (QS al-Muzammil: 6). Bukankah kekasih senang berjumpa dan berduaan dengan kekasihnya.

Kedua, al-jahlu, karena awam ilmu agamanya. Seandainya tahu dalil, keutamaan, rahasia, hikmah, keajaiban, manfaat, indahnya Tahajud, pastilah ia menjaganya, bahkan sebelum tidur pun sudah senang karena nanti malam menghadap Allah.

"Apakah sama hamba Allah yang bangun malam sujud berdiri yang takut dengan dahsyatnya akhirat dan mengharapkan rahmat Allah dengan mereka yang lelap dalam peraduan tidur? Apakah sama hamba Allah yang berilmu dengan yang tidak berilmu? Sesungguhnya hanya hamba Allah berilmu yang mengingat Allah di penghujung malam," (QS az-Zumar: 9).

Ketiga, hubbud dunya, diperbudak dunia sehingga dilelahkan dan disibukkan dengannya, siang dan malam. Bangun malam pun karena target dunia. "Bermegah-megahan telah melalaikan kamu sampai kamu masuk ke dalam kubur," (QS at-Takatsur: 1-2).

Keempat, abdul hawa, budak nafsu. Orang yang kegemarannya melakukan amal maksiat, seperti pezina, pemabuk, pejudi, dan sebagainya sangat sulit untuk shalat malam. Puas dan senangnya hanya pada hal maksiat (QS Yusuf: 53).

Kelima, tho’mul haraami, banyak makan minum yang haram. Bisa dipastikan jika sesuatu yang dikonsumsinya adalah haram maka akan berat sekali untuk shalat lima waktu, apalagi shalat malam.

Kalaupun shalat terkesan berat dan cenderung malas-malasan, "Mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan,” (QS at-Taubah: 54). Tubuh yang tumbuh dari yang haram menjadi energi maksiat dan membuat lemes ibadah, wahai ikhwah fillah!

Keenam, katsrotul dzunuub, karena selalu dan keseringan berbuat dosa. Setiap dosa yg diperbuat menjadi noktah hitam di hati. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba, ketika berbuat dosa, maka pada hatinya akan tertinggal setitik noda hitam. Jika dia bertaubat dari dosanya, maka hatinya akan dibersihkan dari noda hitam tersebut. Namun, apabila dia terus menambah dosanya, maka noda hitam tersebut pun semakin bertambah.”

Demikianlah maksud dari firman Allah Taala, “Sekali-kali tidak, bahkan apa yang mereka lakukan tersebut akan menutupi hatinya,” (QS al-Muthaffifin: 14).” (HR at-Tirmidzi).

Sufyan ats-Tsauri berkata, "Saya pernah tidak bisa menjalankan shalat Tahajud selama lima bulan hanya karena satu dosa yang dulu aku lakukan."

Seseorang datang kepada Imam Ghazali untuk menanyakan kepada beliau mengenai sesuatu yang menyebabkannya tidak bisa bangun malam untuk mengerjakan shalat. Beliau menjawab, “Dosa-dosamu telah membelenggumu."

Ketujuh, karena alasan dari poin pertama sampai keenam, maka ia pun dengan mudah dikuasai setan (QS Al-A'rof: 175).

“Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi SAW bersabda: “Setan akan mengikat tengkuk salah seorang di antara kamu apabila ia tidur dengan tiga ikatan. Setan menyetempel setiap simpul ikatan atas kalian dengan mengucapkan, 'Bagimu malam yang panjang maka tidurlah.' Apabila ia bangun dan berzikir kepada Allah maka terbukalah satu ikatan. Apabila ia wudhu, terbuka pula satu ikatan. Apabila ia shalat, terbukalah satu ikatan. Maka, di pagi hari ia penuh semangat dan segar. Jika tidak, niscaya di pagi hari perasaannya buruk dan malas.” (HR Bukhari).

Ketika Rasulullah SAW diberitahu tentang seorang yang tidak Tahajud, beliau menjawab, “Setan telah mengencingi kedua telinganya.” (HR an-Nasa’i dan Ibnu Majah). Semoga Allah menanamkan keindahan iman di hati kita dan kenikmatan shalat malam. Aamiin. (republika.co.id)

Inilah Hukuman Berat Bagi Pelaku Pemerkosa dalam Islam

Inilah Hukuman Berat Bagi Pelaku Pemerkosa dalam Islam. Masalah pemerkosaan belakangan ini banyak memenuhi kabar berita media. Korbannya dari mulai anak-anak, belia, sampai mereka wanita yang telah dewasa. Bukan sekedar diperkosa, beberapa korban juga memperoleh perlakuan sadis sampai dibunuh.

Inilah Hukuman Berat Bagi Pelaku Pemerkosa dalam Islam

Banyak pihak yang berang serta geram pada aksi biadab beberapa pelaku. Desakan publik menimbulkan wacana mengenai hukum kebiri sampai hukuman mati. Paling minim, pelaku semestinya menerima hukuman seumur hidup. Hukuman ini yang dinilai paling pas untuk bikin pelaku kapok.

Sesungguhnya, Agama Islam telah mengaplikasikan hukuman yang berat untuk mereka yang bertindak tercela ini. Tetapi kontra lantaran dikira begitu sadis serta tak berperikemanusiaa. Tetapi lihat keadaan sosial saat ini, beratnya hukum pemerkosa ini merasa begitu adil. Seperti apa? Berikut penjelasannya.

Ulama dari India Dr. Zakir Naik mengatakan, hukuman bagi pemerkosa adalah hukuman mati. Ini berdasarkan QS. Al-Maidah: 33. Dimana dalam ayat tersebut Allah menjelaskan jika orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya serta membuat kerusakan di bumi harus dihukum dengan cara dibunuh, disalib, dipotong tangan dan kakinya, serta dibuang ke luar daerah.

“Sesungguhnya, hukuman terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, adalah dibunuh atau disalib, dipotong tangan dan kaki mereka dengan bersilang, atau dibuang (keluar daerah). Yang demikian itu, (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka mendapat siksaan yang besar.” (QS. Al-Maidah: 33)

Tindakan memperkosa hingga membunuh korbannya sudah termasuk kategori memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi. Kejahatan yang mereka lakukan termasuk kategori pembuat onar dan teror di muka bumi.

Namun ada pula pemerkosa yang tidak membunuh korbannya. Menurut Syekh Umar bin Muhammad bin Ibrahim dalam Ahkam al-Janin fi al-Fiqh al-Islami, mengatakan, mereka tetap akan menerima sanksi berat meski sang pelaku berkenan menikahi korban. Para ulama bersepakat jika hukuman bagi pemerkosa sama seperti sanksi zina, yakni had.

Jika pelaku pemerkosa ini adalah seorang yang sudah beristri, maka hukumannya adalah rajam (dilempar dengan batu) sampai mati. Sementara jika masih lajang, maka dia harus menerima cambuk 100 kali dan dibuang ke daerah terpencil selama satu tahun. Mereka dibuat jera dengan disakiti seluruh tubuhnya dengan cambukan. Kemudian ditambah dengan diasingkan selama setahun.

Sementara itu, menurut Imam Malik, pelaku juga diwajibkan membayar mahar sebagai ganti rugi. Semua sanksi yang ditetapkan untuk pelaku, sedangkan korban tidak menerima hukuman tersebut.

Bagaimana? Mengerikan dan begitu berat bukan? Hukuman ini awalnya dianggap menjadi hukuman paling sadis yang pernah ada. Namun faktanya, kini banyak orang yang meneriakkan hukuman berat terhadap pemerkosa layaknya yang sudah ditetapkan dalam hukum Islam.

Menabur Bunga Di Atas Kuburan Inilah Hukumnya

Menabur bunga diatas kuburan, inilah hukumnya  .Jika ada orang meninggal kita kerap lihat beberapa orang yang menaburkan bunga pada makam seorang dengan maksud supaya tampak lebih indah serta wangi, lantas bagaimana hukum menabur bunga diatas kuburan menurut Islam?
Menabur Bunga Di Atas Kuburan Inilah Hukumnya

Aktivitas menabur bunga bukan sekedar dikerjakan pada makam yang masih basah atau barusan namun pada hari-hari tertentu seperti mendekati hari raya atau hari yang lain aktivitas ini jadi satu kewajiban untuk orang Indonesia.

Menabur bunga diatas kuburan adalah satu diantara aktivitas yang kerap kita saksikan dimasyarakat. Aktivitas ini berdasar pada hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari yakni yang menerangkan bahwa ketika Rosulullah jalan melalui dua kuburan, beliau bersabda kalau dua orang penghuni kubur itu tengah memperoleh siksaan akibat perbuatan yang sudah mereka kerjakan selama didunia, yakni tak bersuci sesudah buang air kecil serta kerap menebarkan fitnah yg tidak benar. Lalu Rosulullah mengambil pelepah kurma serta membaginya jadi dua sisi untuk ditempatkan pada masing-masing kuburan, hal semacam ini mempunyai tujuan untuk memperingan siksa orang yang didalam kubur sampai pelepah kurma itu kering.

Bagaimana hukum tabur bunga di kuburan menurut Islam? Ada dua pendapat ulama yang melihat isi hadits ini seputar hukum menabur bunga atau meletakkan tumbuhan lainnya pada kuburan. Berikut adalah uraianya:

Anjuran Rosulullah
Sebagian ulama berpendapat bahwa menabur bunga diatas kuburan seseorang merupakan hal yang dianjurkan oleh Rosulullah. Hal ini berdasarkan dari hadits diatas yang menerangkan bahwa Rosulullah meletakkan pelepah kurma yang masih basah di atas kuburan orang yang disiksa untuk meringankan siksanya hingga pelepah kurma itu mengering. Pendapat ini banyak dianut oleh para ulama Syafi’iyah dan menganjurkan untuk menabur bunga atau meletakkan tumbuhan lain di atas kuburan seseorang untuk meringankan siksa kuburnya.

Imam besar Islam yaitu Imam Ar-Ramli mengatakan dalam kitab Nihayah bahwa meletakkan pelepah kurma yang masih basah atau hijau di atas kubur merupakan hal yang dianjurkan oleh Rosulullah. Ibnu Hajar menjelaskan dalam Fathu Al-Bari bahwa Buradah telah berwasiat agar kuburnya nanti diletakkan dua pelepah kurma yang masih basah atau hijau. Jadi hukum menabur bunga dikubur sangat dianjurkan karena mengikuti perilaku Rosulullah.

Bukan anjuran Rosulullah
Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa menabur bunga diatas kuburan merupakan hal yang tidak dianjurkan oleh Rosulullah dan hadits diatas hanya berlaku pada Rosulullah saja. Pelepah kurma basah yang diletakkan di atas kuburan tidak dapat meringankan siksa orang yang dikubur tersebut tetapi yang meringankan siksa kuburnya adalah adanya syafaat dari Rosulullah.

Rosulullah juga tidak melakukan hal yang sama pada kuburan lainnya dan para sahabat pun tidak mengetahui akan hal ini. Selain itu ada hadits yang diriwayatkan oleh Muslim yang menerangkan bahwa Rosulullah melewati dua kubur dan meletakkan pelepah kurma yang masih basah di atasnya dan beliau berkata bahwa dua penghuni kubur ini akan mendapat keringanan siksaan karena syafaat Rosulullah hingga pelepah itu mengering.

Berdasarkan hadits tersebut dapat disimpulkan bahwa yang dapat meringankan adzab dari penghuni kubur adalah syafaat Rosulullah bukan pelepah kurma atau bunga yang masih segar dan hukum menabur bunga di pusara tidak dianjurkan.

Dari kedua pendapat itu dapat disimpulkan bahwa meletakkan pelepah kurma, bunga atau tumbuhan lain diatas kubur merupakan hal yang tidak ada gunanya dan malah menghambur-hamburkan harta saja. Alangkah baiknya jika uang yang digunakan untuk membeli bunga dialokasikan untuk membantu anak yatim atau disedekahkan kepada orang fakir miskin sehingga lebih bermanfaat.

Itulah info sekitar hukum menabur bunga diatas kuburan menurut Islam berdasar pada hadits Nabi yang sudah ditinjau oleh beberapa ulama.

Minuman Keras, Induk dari Segala Kejahatan

Efek jelek dari miras serta semacamnya pada masyarakat kiranya telah di ketahui secara terang benderang. Sayangnya, sikap yang diperlihatkan sebagian masyarakat serta bahkan juga pemerintah belum seragam serta tegas dalam melarang produksi serta peredaran miras itu.
Minuman Keras, Induk dari Segala Kejahatan

Walaupun kita akui, beberapa pemda, ormas, dan orang-orang sudah mengambil sikap sendiri pada peredaran miras dengan sikapnya yang tegas, menampik peredaran miras. Terjadinya tindak kriminil, seringkali diawali dari dampak minuman keras yang ditenggaknya.

Karena dengan miras, konon keberanian pelaku menjadi meningkat, rasa takut dan minder menjadi hilang, kontrol dan akal sehat menjadi lemah bahkan hilang, sehingga perbuatannya menjadi ngawur dan lepas kendali.

Akibatnya, ia bisa bertindak nekat dan di luar batas kemanusian. Ia bisa menodong, menjambret, melukai dan bahkan membunuh. Yang memprihatinkan seperti kejadian baru-baru ini, sudah memperkosa korban lalu membunuhnya, sunguh sangat biadab.

Sikap Islam sangat tegas mengenai miras. Hukumnya haram, dan pelakunya dianggap telah melakukan dosa besar serta dikenakan hukuman had berupa dicambuk/dipukul dalam hitungan 40 atau 80 kali cambukan.

Nabi Muhammad SAW juga menyatakan khamr (miras) adalah ummul khaba 'its (induk dari segala kejahatan) sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, Khamr adalah induk dari kekejian dan dosa yang paling besar, barang siapa meminumnya, ia bisa berzina dengan ibunya, saudari ibunya, dan saudari ayahnya.” (HR ath-Thabrani)

Dengan redaksi yang sedikit berbeda, Abdullah bin Amr meriwayatkan, bahwa Nabi SAW bersabda, "Khamr adalah induk dari segala kejahatan, barang siapa meminumnya, maka shalatnya tidak diterima selama 40 hari, apabila ia mati sementara ada khamr di dalam perutnya, maka ia mati sebagaimana matinya orang Jahiliyyah.” (HR ath-Thabrani)

Bahaya miras juga telah diingatkan oleh salah seorang sahabat Rasulullah SAW, Utsman bin Affan. Diriwayatkan, suatu ketika Utsman sedang menyampaikan khutbah sembari berpesan, “Waspadalah terhadap miras karena sesungguhnya miras merupakan induk segala perbuatan keji. Sungguh, pernah terjadi pada seorang pria saleh sebelum kalian dari kalangan ahli ibadah. Ia rajin beribadah ke masjid. Suatu ketika ia bertemu dengan seorang perempuan nakal."

"Perempuan tersebut memerintahkan kepada pembantunya agar mempersilakan lelaki tersebut masuk ke dalam rumah. Kemudian pintunya dikunci rapat-rapat. Di sisi perempuan tersebut terdapat miras dan seorang bayi. kemudian perempuan tadi berkata, 'Kamu tidak bisa keluar dari rumah ini sebelum engkau memilih minum segelas arak ini atau engkau berzina dengan aku, atau engkau membunuh bayi ini. Jika kamu tidak mau, maka saya akan berteriak dan saya katakan bahwa kamu ini memasuki rumahku. Siapa yang akan percaya kepadamu?'

Lelaki tersebut menjawab, “Saya tidak mau melakukan perbuatan keji (berzina) atau pun membunuh jiwa seseorang.” Akhirnya ia minum segelas miras. Demi Allah, ia menjadi mabuk sehingga ia pun berbuat zina dengan perempuan tersebut dan membunuh si bayi.

Utsman RA pun berpesan, “Jauhilah minum minuman keras, karena minuman keras merupakan induk segala perbuatan keji. Demi Allah, sungguh, iman dan minuman keras tidak akan bersatu di dalam hati seseorang melainkan hampir pasti salah satu di antaranya melenyapkan yang lain.”

Setelah menyadari bahaya miras, masihkah kita bersikap lembek terhadapnya? Ataukah masih butuh korban lebih banyak lagi baru mau mengambil tindakan? (republika.co.id)

Muliakanlah Para Perempuan

Satu saat, seseorang melukai kepala seorang budak wanita dengan batu hingga terluka. Lalu salah seorang teman dekat Nabi SAW menanyai budak wanita itu, siapa yang berbuat sekian kejam terhadapnya. Saat dijelaskan nama seorang yang memukulinya. Wanita itu menganggukkan kepalanya.

Muliakanlah Para Perempuan

Lalu, orang yang melukai budak wanita itu dihadapkan pada Rasulullah, namun ia tak mengaku tindakannya hingga saat yang cukup lama. Namun selanjutnya, ia mengakui tindakannya serta Rasulullah SAW memerintahkan sahabat untuk menghukum orang itu.

Kisah dari Anas RA diatas memperlihatkan, betapa ajaran Islam begitu memuliakan wanita dengan menjadikannya manusia yang sama kedudukannya dengan lelaki dalam tiap-tiap lini kehidupan, terkecuali yang terkait dengan pekerjaan, keharusan, tanggung jawab, serta karir yang tidak cocok dengan fitrahnya sebagai wanita.

Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Alquran, "Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana," (QS. at-Taubah [91]: 71)

Islam memberikan kemuliaan dan penghargaan yang tinggi kepada kaum wanita. Sebagai contoh, Ummul Mukminin Aisyah RA banyak sekali meriwayatkan hadis yang disertai dengan penjelasannya. Aisyah sering berdiskusi dengan para sahabat Nabi SAW. Beliau juga termasuk yang menjadi salah satu sumber rujukan untuk memahami wahyu dan sunah Nabi.

Oleh karenanya, dalam Islam wanita juga memiliki kewajiban yang sama dengan laki-laki untuk menuntut ilmu sepanjang hayat dikandung badan. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, "Mencari ilmu itu adalah wajib bagi setiap Muslim laki-laki maupun Muslim perempuan." (HR Ibnu Abdil Barr)

Terkait masalah ekonomi, seorang wanita berhak memiliki harta benda dan menafkahkannya sesuai dengan keinginannya. Tidak seorang pun berhak memaksanya untuk menafkahkan hartanya. Termasuk kerabat dekat dan suaminya sekalipun.

Termasuk memilih pendamping hidup, seorang wanita berhak menolak ketika akan dinikahkan oleh walinya apabila dilakukan tanpa seizinnya. Rasulullah SAW bersabda, "Seorang janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya. Seorang perawan dimintakan izin darinya (ketika hendak dinikahkan), sedangkan pertanda izinnya adalah diamnya."

Begitulah Islam memposisikan sosok wanita, sebagai manusia yang sama kedudukannya dengan pria. Dia adalah sosok ibu, saudara perempuan, anak perempuan, dan istri yang harus dihormati dan dihargai keberadaannya. (republika.co.id)